Selasa, 08 Januari 2013

hakikat pendidikan

http://www.slideshare.net/egaeriga/hakikat-pendidikan-15906595

bagaimana menulis tes uraian

http://www.slideshare.net/egaeriga/bagaimana-menulis-tes-uraian

pengembangan tes obyektif

PENGEMBANGAN TES OBYEKTIF Tes objektf digunakan bila : Kelompok yang akan dites banyak dan tesnya akan digunakan lagi berkali-kali. Skor yang diperoleh diperkirakan akan dapat dipercaya ( mempunyai reliabilitas yang tinggi). Guru lebih mampu menyusun tes bentuk objektif daripada tes bentuk esai ( uraian). Hanya mempunyai waktu sedikit untuk koreksi dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk menyusun tes. Berbagai macam tes objektif yang digunakan dalam evaluasi pembelajaran, yaitu : Tes Benar-Salah (True-False) Soal-soalnya berupa pertanyaan (statement). Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pertanyaan itu dengan melingkari huruf B jika pertanyaan itu betul menurut pendapatnya, dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah. Jumlah huruf B-S harus sama banyak dengan dengan jumlah pertanyaan atau pernyataan. Bentuk Benar-Salah ada 2 macam ( dilihat dari segi mengerjakan/menjawab soal), yaitu : Dengan pembetulan (with correction) yaitu siswa diminta membetulkan bila ia memilih jawaban yang salah. Tanpa pembetulan ( without correction) yaitu siswa hanya diminta melingkari huruf B atau S tanpa memberi jawaban yang betul. Kebaikan tes benar-salah adalah : Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya singkat. Mudah menyusunnya Dapat digunakan berkali-kali Dapat dilihat secara cepat dan objektif Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti Kelemahan tes benar-salah adalah : Sering membingungkan Mudah ditebak/diduga Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan kembali, sangat sulit mengembangkan soal yang berhubungan dengan problem solving Guru akan mengalami kesulitan dalam menginterpretasi kemampuan siswa yang sebenarnya . Tingkat reliabilitas yang sangat rendah. Kurang dapat digunakan sebagai alat diagnosa kesulitan belajar siswa Validitas soal juga sangat diragukan kebenarannya. Petunjuk penyusunan : Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (scoring) Usahakan agar jumlah butir soal yang harus dijawab B sama dengan butir soal yang harus dijawab S. Dalam hal ini hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur misalnya : B – S – B - S – B – S atau SS – BB – SS – BB – SS Hindari item yang masih bisa diperdebatkan Hindarilah pertanyaan – pertanyaan yang persis dengan buku. Hindarilah kata-kata yang menunjukkan kecenderungan memberi saran seperti yang dikehendaki oleh item yang bersangkutan, misalnya : semuanya, tidak selalu, tidak pernah, dan sebagainya. Cara mengolah skor : Rumus untuk mencari skor akhir bentuk benar-salah ada 2 macam, yaitu : Dengan denda Dengan pengertian : S = skor yang diperoleh R = right ( jawaban yang benar ) W = wrong ( jawaban yang salah ) Contoh : Jumlah soal tes = 10 soal. A menjawab betul 8 soal dan salah 2 soal, Maka skor untuk A adalah : 8 – 2 = 6 Dengan menggunakan rumus seperti ini maka ada kemungkinan seorang siswa memperoleh skor negatif. Tanpa denda Rumus : S = R Yang dihitung hanya yang betul ( untuk soal yang tidak dikerjakan dinilai 0 ) Contoh soal Benar-salah, Materi Faktor dan kelipatan kelas 4 SD Petunjuk :Lingkarilah B bila menurutmu pernyataan berikut ini benar, atau lingkarilah S bila menurutmu pernyataan berikut ini salah : Faktor dari suatu bilangan adalah bilangan-bilangan yang dapat membagi habis (bersisa nol) bilangan tertentu B – S 12, 15, 30 adalah kelipatan persekutuan dari 3 dan 5 B – S Faktor dari 12 adalah 1, 2, 3, 4, 6, dan 12 B – S Faktor persekutuan dari 12 dan 18 adalah 1, 3 dan 6 B – S FPB dari 21 dan 28 adalah 7 B – S Faktorisasi prima dari 60 adalah 2 x 32 x 5 B – S Bilangan prima adalah bilangan yang hanya memiliki 1 faktor B – S 1, 2, 3, 5 adalah bilangan prima B – S Bilangan prima antara 1 dan 12 adalah 2, 3, 5, 7, dan 11 B – S Dua buah lampu dinyalakan bersama-sama, lampu hijau menyala setiap 15 detik dan lampu merah menyala setiap 12 detik. Pada detik ke 30 maka kedua lampu akan menyala secara bersamaan. B – S Tes Pilihan Ganda Menurut Arikunto (2004) , hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tes pilihan ganda, yaitu : Instruksi pengerjaannya harus jelas, dan bila dipandang perlu baik disertai contoh mengerjakannya. Dalam multiple choice test hanya ada satu jawaban yang benar. Kalimat pokoknya hendaknya mencakup dan sesuai dengan rangkaian mana pun yang dapat dipilih. Kalimat pada butir soal hendaknya sesingkat mungkin. Usahakan menghindari pengunaan bentuk negatif dalam kalimat pokoknya, Kalimat pokok dalam setiap butir soal, hendaknya tidak tergantung pada butir-butir soal lain. Gunakan kata-kata : “ manakah jawaban paling baik”, pilihlah satu yang pasti lebih baik dari yang lain”, Dari segi bahasa, butir-butir soal jangan terlalu sukar Tiap butir soal hendaknya mengandung satu ide, meskipun ide tersebut dapat kompleks, Bila dapat disusun urutan logis antar pilihan-pilihan , urutkanlah ( misalnya urutan tahun, alphabet, dan sebagainya), Susunlah agar jawaban manapun mempunyai kesesuaian tata bahasa dengan kalimat pokoknya, Alternatif yang disajikan hendaknya agak seragam dalam panjangnya, sifat uraiannya maupun taraf teknis Alternatif yg disajikan hendaknya agak bersifat homogen mengenai isi dan bentuknya Buatlah jumlah alternatif pilihan ganda Hindarkan pengulangan suara atau pengulangan kata pada kalimat pokok di alternatif-alternatifnya. Tes pilihan ganda paling sering digunakan karena : Tipe tes disusun dan digunakan untuk mengukur semua standar kompetensi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Jumlah alternatif jawaban (option) lebih dari dua sehingga dapat mengurangi keinginan siswa untuk menebak Menuntut kemampuan siswa untuk membedakan berbagai tingkat kebenaran sekaligus. Tingkat kesukaran butir soal dapat dapat dikendalikan dengan hanya mengubah tingkat homogenitas alternatif jawaban. Bentuk tes formatif pilihan ganda di skor secara objektif, karena pemeriksaan atau penskorannya tidak selalu dilakukan oleh manusia tapi dapat dilakukan mesin scanner. Dua jenis tes pilihan Ganda yaitu : Tes pilihan ganda Biasa Tes pilihan ganda menurut Gronlund ( Dalam Sudaryono, 2012) digunakan untuk mengukur kemampuan ingatan , pemahaman, dan penerapan yang lebih kompleks. Bentuk tes ini juga dapat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa yang lebih tinggi dan dapat diskor secara objektif. Wujud soal pilihan ganda terdiri atas : Dasar pernyataan/stimulus Pokok soal/stem Pilihan jawaban yang terdiri kunci jawaban dan pengecoh. Contoh soal pilihan Ganda Biasa : Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D ! Hasil dari ( - 18 + 2 ) : ( -3 -1 ) adalah ... a. -5 b. -4 c. 4 d. 5 Seorang anak yang tingginya 160 cm memiliki panjang bayangan 2 meter. Pada saat yang sama sebuah tiang memiliki panjang bayangan 5 meter. Tinggi tiang sebenarnya adalah ... a. 3,6 m b. 4 m c. 4,6 m d. 5 m Banyak sisi pada prisma dengan alas segi-7 adalah ... a. 8 b. 9 c. 14 d. 21 Tes Pilihan Ganda Assosiasi Contoh item yang digunakan untuk menjawab soal pilihan ganda asosiasi, yaitu : Apabila hanya (1), (2), dan (3) benar Apabila hanya (1) dan (3) benar Apabila hanya (2) dan (4) benar Apabila hanya (4) benar Apabila semuanya benar. Contoh soal tes pilihan ganda asosiasi : Jika pernyataan p bernilai salah dan q bernilai benar, maka pernyataan di bawah ini yang bernilai benar adalah ... "p ^(~q)" p V q p ↔q p →q Soal menjodohkan ( Matching Test) Soal menjodohkan adalah bentuk soal yang terdiri dari dua kelompok pernyataan. Kelompok pertama ditulis pada lajur sebelah kiri biasanya merupakan pernyataan soal atau pertanyaan sering juga disebut stimulus atau premis yang berupa kalimat. Kelompok kedua biasa disebut respon yang ditulis pada lajur sebelah kanan, biasanya merupakan pernyataan jawaban atau pertanyaan respon berupa kata, bilangan , gambar atau simbol. Peserta tes diminta untuk menjodohkan, atau memilih pasangan yang tepat bagi pernyataan yang ditulis pada stimulus yang terdapat di lajur sebelah kiri dengan respon yang yang terdapat pada lajur sebelah kanan. Menurut arikunto ( dalam Sudaryono, 2012) bentuk soal menjodohkan sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik yang sangat sederhana, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana, dan kemampuan mengidentifikasi kemampuan menghubungkan antara dua hal. Keunggulan soal menjodohkan menurut Athanasou dan lamprianou ( dalam Sudaryono, 2012) yaitu : Luasnya materi yang dapat dicakup. Relatif lebih mudah dibuat butir soal Ringkas dan ekonomis dilihat dari segi cara memberikan jawaban Dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan mudah dalam penskorannya Kelemahan soal menjodohkan, adalah : Adanya kecenderungan untuk mengukur kemampuan mengingat dan kuarang tepat digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Sukarnya menjaga kehomogenan isi premis maupun respon khususnya ditinjau dari segi kesamaan kemampuan yang hendak diukur Kemungkinan menebak dengan benar relatif tinggi. Cara mengolah skor : dihitung S = R Artinya skor terakhir dihitung jawaban yang benar saja. Tes Isian ( Completion Test) Completion test atau tes isian, atau tes meyempurnakan atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagian yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yg kita minta dari murid. Petunjuk penyusunan tes isian : Perlu selalu diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan lebih dari satu jawaban yang kelihatan logis. Jangan mengutip kalimat/pernyataan yang tertera pada buku/catatan. Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjang. Diusahakan hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai lebih dari satu tempat kosong. Jangan mulai dengan tempat kosong. Soal Jawaban Singkat Adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban singkat, berupa kata prase, nama tempat, nama tokoh, lambang, atau kalimat yang sudah pasti. Beberapa kemampuan atau indikator yang dapat yang dapat diukur dengan soal jawaban singkat yaitu : Kemampuan menyebutkan istilah. Kemampuan menyebutkan fakta. Kemampuan menyebutkan prinsip Kemampuan menyebutkan metode atau prosedur. Kemampuan menginterprestasi data sederhana. Kemampuan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan angka Kemampuan memanipulasi symbol matematika Kemampuan melengkapi persamaan DAFTAR PUSTAKA Aprianti, Rini dan Suherman. 2008.Buku Pintar Matematika Lengkap SD.Bandung. Penerbit Episilon Grup. Arikunto, Suharsimi. (2008). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara Sobirin. 2011. Kompas Matematika. Bekasi. Quantum Media. Sudaryono. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Langkah-langkah pengembangan instrumen non tes

PENGEMBANGAN NON TES Langkah-langkah pengembangan instrumen non tes menurut Ekawati dan Sumaryanta (2011:51), yaitu: Menentukan spesifikasi instrumen Penentuan spesifikasi instrumen dimulai dengan menentukan kejelasan tujuan. Setelah menetapkan tujuan, kegiatan berikutnya menyusun kisi-kisi instrumen. Membuat kisi-kisi diawali dengan menentukan definisi konseptual, yaitu definisi aspek yang akan diukur menurut hasil kajian teoritik berbagai ahli/referensi. Selanjutnya merumuskan definisi operasional, yaitu definisi yang Anda buat tentang aspek yang akan diukur setelah mencermati definisi konseptual. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi indikator dan ditulisan dalam kisi-kisi. Selanjutnya Anda perlu menentukan bentuk instrumen dan panjang instrumen. Menentukan skala penilaian Skala yang sering digunakan dalam instrumen penilaian antara lain adalah: Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik. Contoh: Tabel. Skala Thurstone Minat terhadap Pelajaran Matematika Pernyataan 7 6 5 4 3 2 1 Saya senang belajar matematika Pelajaran matematika bermanfaat Pelajaran matematika membosankan Dst. Tabel. Skala Likert Sikap terhadap Pelajaran Matematika Pelajaran matematika bermanfaat SL SR K TP Pelajaran matematika sulit SL SR K TP Tidak semua harus belajar matematika SL SR K TP Dst. SL SR K TP Keterangan: SL : Selalu; SR : Sering; K : Kadang-kadang; TP : Tidak Pernah Tabel. Skala Beda Semantik Pelajaran Matematika 7 6 5 4 3 2 1 Menyenangkan Membosankan Sulit Mudah Bermanfaat Sia-sia Menantamg Menjemukan Bany Sedikit Menulis butir instrumen Pada tahap ini butir-butir instrumen dirumuskan berdasarkan kisi-kisi. Pernyataan dapat berupa pernyataan positif dan negatif. Pernyataan positif merupakan pernyataan yang mengandung makna selaras dengan indikator, sedangkan pernyataan negatif adalah pernyataan yang berisi kontra kondisi dengan indikator. Menentukan penyekoran Sistem penyekoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran yang digunakan. Pada skala Thurstone, skor tertinggi tiap butir 7 dan skor terendah 1. Pada skala Likert, awal skor tertinggi tiap butir 5 dan terendah 1, karena sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban kategori tengah, maka dimodifikasi hanya menggunakan empat pilihan. Skor siswa dapat ditafsirkan dengan kriteria berikut: Tabel. Kriteria Penafsiran Interval Nilai Interpretasi X≥M_i+〖Sb〗_i M_i-〖Sb〗_i≤X

Bagaimana menulis tes uraian

BAGAIMANA MENULIS TES URAIAN Menurut Sunarya (2011:43) dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa. Dengan adanya batasan ruang lingkup, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari, serta dapat mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penyekoran. Karena itu kaidah umum yang terpenting dalam menulis soal bentuk uraian adalah, segera tulis kunci jawaban atau pokok-pokok jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa beserta kriteria atau rentang skor yang mungkin diberikan, begitu selesai menulis soal. Sedangkan menurut Ilma (2011:73) menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian, yaitu menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Hal ini sesuai dengan kebaikan tes uraian yang dikemukakan oleh Sudijono (2011:102) bahwa dengan menggunakan tes uraian, tester akan terdorong dan terbiasa untuk berani mengemukakan pendapat dengan menggunakan susunan kalimat dan gaya bahasa yang merupakan hasil olahannya sendiri. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang digunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskoran. Bertitik tolak dari keunggulan-keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh tes hasil belajar bentuk uraian, maka dalam penyusunan butir-butir soal tes uraian ada beberapa petunjuk operasional yang dapat dijadikan pedoman seperti yang dikemukan oleh Sudijono (2011:104) sebagai berikut: Butir-butir soal diusahakan mencakup ide-ide pokok dari materi yang diajarkan. Susunan kalimat soal dibuat berlainan dengan susunan kalimat yang terdapat dalam buku pelajaran atau bahan lain yang diminta untuk dipelajari. Sesaat setelah butir-butir soal tes uraian dibuat, hendaknya segera disusun dan dirumuskan secara tegas, bagaimana atau seperti apakah seharusnya jawaban yang dikehendaki oleh testee sebagai jawaban yang betul. Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian hendaknya diusahakan agar pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintahnya jangan dibuat seragam, melainkan secara bervariasi Kalimat soal hendaknya disusun secara ringkas, padat dan jelas, sehingga cepat dipahami oleh testee dan tidak menimbulkan keraguan atau kebingungan bagi testee dalam memberikan jawabannya. Pedoman tentang cara mengerjakan atau menjawab butir-butir soal dikemukakan. Kaidah khusus penulisan soal bentuk uraian (Sunarya:2011; Ilma:2011) adalah sebagai berikut: Materi Soal harus sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Artinya soal harus menyatakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang, jenis sekolah dan tingkat kelas. Konstruksi Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai; seperti : mengapa, uraikan, jelaskan, hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah, dsb. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut jawaban uraian, misalnya: siapa, dimana, kapan. Demikian juga kalimat tanya yang menuntut jawaban “ya” atau “tidak”, jangan digunakan. Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal. Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soal selesai ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penskorannya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentang skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan. Hal-hal lain yang menyertai soal (grafik, tabel, gambar, peta, atau yang sejenisnya) harus jelas dan terbaca, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda. Bahasa Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana, dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa, serta baik dari segi kaidah bahasa Indonesia. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran yang berbeda (salah pengertian) atau bermakna ganda. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika para peserta berasal dari berbagai daerah. Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan testee. Sedangkan menurut Sukardi (2008:96) ketika menyusun tes esai harus memperhatikan cara-cara sebagai berikut: Fokuskan pertanyaan esai pada materi pembelajaran yang tidak dapat diungkap dengan bentuk tes lain misalnya tes objektif. Formulasikan item pertanyaan yang mengungkap perilaku spesifik yang diperoleh dari pengalaman hasil belajar. Item-item pertanyaan tes esai sebaiknya jelas dan tidak menimbulkan kebingungan sehingga para siswa dapat menjawab dengan tidak ragu-ragu. Sertakan petunjuk waktu pengerjaan untuk setiap pertanyaan, agar para siswa dapat memperhitungkan kecepatan berpikir, menulis dan menuangkan ide sesuai dengan waktu yang tersedia. Hindari pertanyaan pilihan, misalnya pilih empat soal dari lima soal pertanyaan yang tersedia, karena penggunaan pertanyaan pilihan dimungkinkan memengaruhi reliabilitas tes esai yang direncanakan. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pedoman, cara atau kaidah dalam penyusunan tes uraian dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang harus diperhatikan ketika menyusun tes uraian meliputi materi, konstruksi maupun penggunaan bahasa. Sehingga tujuan yang telah direncanakan dalam pelaksanaan tes uraian bisa tercapai. Untuk memastikan apakah soal itu sesuai dengan aturan atau tidak, gunakan kartu telaah berikut untuk menelaah setiap soal (Sunarya,2011:45) KARTU TELAAH SOAL URAIAN Nomor Soal : Perangkat No. ASPEK YANG DITELAAH YA TIDAK MATERI 1 Soal sesuai dengan indikator 2 Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas 3 Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran 4 Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, atau tingkat kelas KONSTRUKSI 5 Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai 6 Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal 7 Ada pedoman penskoran 8 Gambar, Grafik, tabel, diagram dan sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca BAHASA 9 Rumusan kalimat soal komunikatif 10 Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar 11 Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian 12 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat 13 Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan siswa Catatan : P Daftar Pustaka Ilma, Ratu. 2011. Assecssment in Mathematics Education. Palembang. PPS Unsri Sunarya, Yaya. 2011. Strategi Meningkatkan Kualitas Tes Uraian. Bandung. UPI Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Widoyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

pengelompokan alat ukur

PENGELOMPOKKAN ALAT UKUR (TES DAN NON TES) A. TES Pengertian Tes Proses atau kegiatan untuk menilai sesuatu merupakan pengertian sederhana dari evaluasi, untuk dapat menenetukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu, dilakukanlah pengukuran, dan wujud pengukuran itu adalah pengujian. Pengujian dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes. Dalam bahasa Inggris tes ditulis test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “ujian” atau “percobaan”. Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian (Sudijono, 2011:66). Adapun dari segi istilah, menurut Anne Anastasi (dalam Sudijono, 2011:66) yang dimaksud dengan tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu, sedangkan Menurut F.L. Goodenough, tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka, satu dengan yang lain. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan tes adalah cara atau prosedur dalam rangka penilaian atau pengukuran dalam bidang pendidikan yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas sehingga dari hasil pengukuran tersebut diperoleh nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi objek peniliaian, lalu nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai standar tertentu. Berdasarkan Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Secara umum ada beberapa macam fungsi tes di dalam dunia pendidikan , yaitu : 1. Tes dapat berfungsi sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa dan juga sebagai alat untuk mengukur keberhasilan program pengajaran. 2. Tes berfungsi sebagai motivator dalam pembelajaran. 3. Tes dapat berfungsi untuk upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran ada tiga jenis tes yang perlu dibahas yaitu tes penempatan, tes diagnosis, dan tes formatif. Tes formatif adalah penilaian tentang prestasi siswa, yang terintegrasi dalam rencana pelajaran. Tes formatif dilakukan pada setiap periode waktu tertentu dan digunakan untuk memonitor kemajuan siswa. Tujuan tes formatif adalah untuk membantu siswa dan guru dalam proses belajar mengajar pada materi-materi yang khusus (tertentu) sehingga siswa mempunyai penguasaan yang tuntas (mastery). Berdasarkan bentuknya tes formatif dapat dibagi menjadi dua yaitu : (i) tes uraian/subjektif dan (ii) tes objektif. Menurut Widoyoko (2009:46) bentuk tes yang digunakan di lembaga pendidikan dilihat dari segi sistem penskorannya dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes subjektif. Kedua tes tersebut merupakan bagian dari tipe evaluasi yang direalisasiskan dalam bentuk tes tertulis (Sukardi, 2008:11). Secara umum tes objektif terdiri dari tiga tipe, yaitu: (1) benar salah (true false); (2) menjodohkan (matching); (3) pilihan ganda (multiple choice). Tes subjektif terdiri dari bentuk, yaitu : (1) tes uraian bebas (extended response test); (2) tes uraian terbatas (restricted response test). Pengelompokkan tes subjektif tersebut didasarkan pada kebebasan peserta untuk menjawab soal tes uraian. Baik tes objektif maupun subjektif keduanya memilki kelebihan dan kekurangan, hal ini dipengaruhi oleh karakteristik dan cakupan materi yang digunakan dalam tes tersebut. Sebagai contoh : kelebihan tes objektif adalah lebih refresentatif mewakili isi dan luas bahan, mudah dan cepat dalam hal memeriksanya, tidak ada unsur subjektif. Tetapi pada saat yang sama memilki kekurangan diantaranya: membutuhkan persiapan yang lebih sulit daripada soal tes uraian, memungkinkan siswa berspekulasi ketika menjawab dan kerja sama antar siswa pada saat tes lebih terbuka. Sedangkan tes subjektif memiliki kelebihan diantaranya: dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes objektif, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan ide/gagasannya, dan tidak banyak kesempatan untuk berspekulasi dalam menjawab. Sedangkan beberapa kekurangannya adalah : tingkat reliabilitas rendah, membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa jawaban, dan jawaban peserta kadang disertai dengan karangan yang tidak sesuai dengan jawaban dimaksud. Tes Objektif memberi peluang bahwa siapa saja yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama, sedangkan tes subjektif adalah tes yang pada umumnya berbentuk uraian yang penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor disamping jawaban maupun respon yang diberikan peserta tes dengan kata lain jawaban yang sama dapat memiliki skor yang berbeda, butir-butir tes uraian sangat efektif mengukur hasil belajar tingkat yang tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan bentuk tes uraian/subjektif yaitu : 1. Dari segi isi yang diukur hendaknya ditentukan dengan jelas abilitasnya (pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisis dari suatu permasalahan, dan aspek kognitif lainnya). 2. Dari segi bahasa, gunakan bahasa yang baik dan benar, sederhana, singkat, jelas apa yang hendak ditanyakan. 3. Dari segi teknis penyajian soal, jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi yang sama. Perhatikan waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal tersebut. Bedakan bobot penilaian untuk setiap soal disesuaikan dengan tingkat kesukaran soal. 4. Dari segi jawaban, setiap pertanyaan yang hendak diajukan sebaiknya telah ditentukan jawaban yang diharapkan atau dengan kata lain adanya satu jawaban yang benar. Menurut Sudijono (2011:67) sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu dilakukan. Jika penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik, maka tes dapat dibedakan menjadi enam golongan, yaitu : (1) tes seleksi; (2) tes awal; (3) tes akhir; (4) tes diagnostik; (5) tes formatif dan (6) tes sumatif. Jika penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap, maka tes dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu: (1) tes intelegensi (intellegency test); (2) tes kemampuan (aptitude test); (3) tes sikap (attitude test); (4) test kepribadian (personality test) dan (5) tes hasil belajar (achievement test). Adapun penggolongan tes lain yang berdasarkan banyaknya yang mengikuti tes (individual/ grup), waktu yang disediakan (tidak terbatas/cepat), bentuk respon (verbal/non verbal) maupun cara mengajukannya (tertulis/lisan) merupakan penggolongan tes lain-lain. Dalam pengukuran pada umumnya menggunakan teknik tes, tetapi teknik tersebut bukan satu-satunya cara yang dapat ditempuh sebab masih ada cara melakukan pengukuran tanpa harus melakukan pengujian berupa tes, yaitu dengan teknik nontes. Dengan teknik non tes maka penilaian peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik melainkan dalam bentuk pengamatan secara sistematis (observation), wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis). Teknik non tes pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap hidup (affective) dan keterampilan (psychomotoric), sedangkan teknik tes digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam ranah proses berpikirnya (cognitive). Berdasarkan uraian mengenai teknik-teknik dalam melakukan evaluasi, pemilihan teknik tes harus mempertimbangkan sistem penskoran yang akan digunakan, fungsi tes sebagai alat ukur, waktu yang tersedia, responden yang akan dihadapi serta bagaimana cara mengajukannya. Dengan demikian evaluasi yang kita lakukan bisa mengungkap informasi yang dibutuhkan dalam rangka ketercapaian tujuan pembelajaran. B. NON TES Tehnik penilaian non tes berarti tehnik penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tehnik penilaian ini umum nya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Penilaian non tes diantaranya adalah angket (kuisioner), observasi, wawancara, sosiometri, checklist, concept map, portofolio, student jurnal, pertanyaan-pertanyaan, dan sebagainya. 1. Angket Adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang dikirimkan ke responden untuk mengungkap pendapat, keadaan, kesan yang ada pada diri responden sendiri maupun diluar dirinya. (Arikunto, 1988:77) Berdasarkan jenis data, angket dibagi menjadi : 1) Angket langsung Yaitu mengungkap diri orang yang menjawab. 2) Angket tidak langsung Yaitu mengungkap orang lain yang menjawabnya diutarakan oleh orang yang mengisi angket, misalnya informasi tentang anak kecil angket diberikan kepada Bapak atau ibunya. Sebelum angket digunakan, angket harus diujicobakan terlebih dahulu kepada subjek yang mempunyai ciri-ciri dan karakteristik yang sama dengan subjek yang akan dijadikan responden penelitian. Kegiatan uji coba menurut Arikunto (1988:79) dimaksudkan untuk : 1) Mengetahui apakah rumusan kalimat yang ada dalam angket sudah cukup dipahami (tidak membingungkan). 2) Mengetahui cara mengadministrasikannya dengan tepat (misal : Bagaimana teknik menyampaikan, berapa lama waktu pengisian, dan sebagaimnya). 3) Mengetahui apakah-apakah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam angket cukup lengkap atau perlu ditambah sehingga memperjelas data. 4) Mengetahui reaksi responden terhadap pertanyaan angket atau kesediaan untuk mengembalikan, dan sebagainya yang bersifat meningkatkan kualitas perolehan data penelitian. 2. Wawancara (Interview) Diawali dengan menyusun pedoman wawancara atau check-list sesuai dengan data yang akan dikumpulkan. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat harus sesuai dengan permasalahan. Pada saat wawancara sebaiknya menggunakan alat perekam (tape recorder), karena untuk menghindari : 1) Ketidaklengkapan data yang disebabkan oleh faktor lupa. 2) Jika ada jawaban yang terlewat atau belum ditanyakan, segera mengulangi wawancara. Keuntungan wawancara menurut Arikunto (1988:81) dibandingkan angket adalah jawaban yang diberikan oleh responden tidak mungkin berbentuk “tidak tahu” karena pewawancara dapat mengejar atau memaksa (dengan cara halus) responden agar mau menjawab pertanyaan dan memberikan informasi yang diperlukan. 3. Pengamatan (Observasi) Observasi menurut Wardhani adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan cara mencatat hasil pengamatan terhadap objek tertentu. Teknik penilaian observasi digunakan biasanya pada saat menggunakan penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian produk, portofolio, dan penilaian afektif. Ditinjau dari cara pencatatannya, pengamatan menurut Arikunto (1988:86) ada empat macam, yaitu : 1) Pencatatan dengan jangka waktu Menggunakan alat pencatat waktu misalnya stop watch. Pengamat harus menunggu sampai selesai tugas yang diberikan dan dihitung reliabilitas pencatatan waktu dari dua pengamat dalam waktu yang berbeda. 2) Pencatatan penghitungan frekuensi Mencatat munculnya kejadian yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu. Biasanya pengamat menggunakan tally (jari-jari hitungan). 3) Pencatatan dengan interval Dilakukan oleh pengamat untuk melakukan pengamatan terhadap sejumlah kejadian dalam interval waktu tertentu. Interval pengamatan dilakukan, merentang antara sepuluh detik samapai satu menit. 4) Pengamatan terus-menerus Pada pengamatan ini menuliskan semua kejadian yang muncul pada subjek atau sekelompok subjek dalam satu penggalan waktu tertentu, misalnya satu jam pelajaran disuatu kelas. Pengamat membuat catatan kejadian secara kronologis dan rinci, termasuk narasi yang terjadi. Pada pengamatan proses yang sudah diketahui pemunculannya ini pengamat mengadakan pengecekan dan penilaian dengan maksud antara lain : a) Muncul tidaknya sesuatu peristiwa, kegiatan atau kejadian. b) Berapa kali (frekuensi) munculnya peristiwa, kegiatan atau kejadian tersebut dalam kurun waktu (penggalan waktu) tertentu. c) Berapa lama munculnya peristiwa, kegiatan atau kejadian dimaksud. d) Urutan pemunculan suatu peristiwa, kegiatan atau kejadian dibandingkan atau dihubungkan dengan pemunculan peristiwa, kegiatan atau kejadian lain. e) Kualitas setiap pemunculan peristiwa, kejadian atau kegiatan ditinjau dari ukuran yang seharusnya. 4. Dokumentasi Metode dokumentasi mirip dengan pengamatan dan alat yang digunakan adalah check-list (daftar) atau pedoman pengamatan. Dalam dokumentasi yang diamati adalah dokumen. Data yang terkandung dalam dokumen dapat digali, dicacah, dikumpulkan dengan menggunakan daftar centang ataupun pedoman dokumentasi seperti halnya pengamatan Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi. 1988. Penilaian Program Pendidikan. Jakarta : PT Bina Aksara. Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta. Depdiknas. Putri, Ratu Ilma Indra. 2010. Assessment Mathematics Education. Palembang. UNSRI Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip & Operasionalnya.Jakarta. Bumi Aksara. Wardhani, Sri. 2012. Penilaian Hasil Belajar Matematika. Yogyakarta : PPPPTK Matematika Widoyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Hakikat evaluasi pembelajaran

HAKIKAT EVALUASI PEMBELAJARAN 1. Pengertian Evaluasi Istilah evaluasi dalam bahasa Indonesia yaitu penilaian, sedangkan menurut Sudaryono evaluasi ( evaluation) yaitu suatu rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur efektivitas sistem pembelajaran secara keseluruhan. Secara khusus, ada beberapa pengertian yang juga dikemukakan oleh para pakar, adalah sebagai berikut : 1) Edwin Wandt dan Gerald W.Brown (1997) mengemukakan : istilah evaluasi menunjukkan pada suatu pengertian, yaitu suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. 2) Ten Brink dan Terry D (1994) mengemukakan : evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi dan menggunakannya sebagai bahan untuk pertimbangan dalam membuat keputusan. 3) Suharsimi Arikunto (2004) mengemukakan : evaluasi adalah kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu; dalam mencari sesuatu tersebut, juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif strategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, evaluasi berarti menentukan sampai seberapa jauh sesuatu itu berharga, bermutu, atau bernilai. Evaluasi terhadap hasil belajar yang dicapai oleh siswa dan terhadap proses pembelajaran mengandung penilaian terhadap hasil belajar atau proses belajar itu, sampai seberapa jauh keduanya dapat dinilai baik. (Sudaryono, 2012) 2. Ruang Lingkup Evaluasi Secara umum ruang lingkup dari evaluasi dalam bidang pendidikan di sekolah mencakup tiga komponen yaitu : a. Evaluasi mengenai program pengajaran Adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Evaluasi program dimaksudkan untuk melihat pencapaian target program. Untuk menentukan seberapa jauh target program pengajaran tercapai, maka yang dijadikan sebagai tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan. Evaluasi atau penilaian terhadap program pengajaran akan mencakup tiga hal, yaitu : (a) evaluasi terhadap tujuan pengajaran; (b) evaluasi terhadap isi program pengajaran; dan (c) evaluasi terhadap strategi pembelajaran. b. Evaluasi mengenai proses pelaksanaan pengajaran Mencakup kesesuaian antara proses pembelajaran yang berlangsung dengan garis-garis besar program pengajaran yang telah ditentukan, kesiapan guru dalam melaksanakan proses pengajaran, minat atau perhatian siswa dalam mengikuti pelajaran, keaktifan atau partisipasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung, peranan bimbingan dan penyuluhan terhadap siswa yang membutuhkannya, komunikasi dua arah antara guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung, pemberian dorongan atau motivasi terhadap siswa, pemberian tugas-tugas terhadap siswa dalam rangka penerapan teori-teori yang diperoleh di dalam kelas, upaya menghilangkan dampak negatif yang timbul sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di sekolah. c. Evaluasi mengenai hasil belajar ( hasil pengajaran) Evaluasi terhadap hasil belajar siswa ini mencakup : evaluasi mengenai tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapai dalam unit-unit program pengajaran yang bersifat terbatas, dan evaluasi mengenai tingkat pencapaian siswa terhadap tujuan-tujuan umum pembelajaran. 3. Objek dan Subjek Evaluasi Menurut Suharsimi ( dalam Sudaryono, 2012) subjek evaluasi adalah orang yang melakukan evaluasi, misalnya untuk melaksanakan evaluasi tentang prestasi belajar atau pencapaian maka sebagai subjek evaluasi adalah guru, untuk melaksanakan evaluasi sikap yang menggunakan sebuah skala maka sebagai subjeknya dapat meminta petugas yang ditunjuk, dengan didahului oleh suatu latihan melaksanakan evaluasi tersebut, dan untuk melaksanakan evaluasi terhadap kepribadian dimana menggunakan sebuah alat ukur yang sudah distandarisasikan maka subjeknya adalah ahli-ahli psikologi. Sasaran keputusan pendidikan dibuat oleh seorang guru tidak hanya individu siswa, tetapi juga guru, materi pembelajaran, tujuan, kurikulum, situasi, dan kondisi, juga dapat dijadikan sebagai objek pembuatan keputusan pendidikan (evaluasi). Dalam konteks evaluasi hasil belajar, maka ada tiga ranah yang harus dijadikan sasaran dalam setiap kegiatan evaluasi hasil belajar yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan otak. Artinya segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ke dalam ranah kognitif. Tujuan belajar kognitif dapat dinilai melalui tes lisan maupun tertulis. Tes tertulis bisa berbentuk tes objektif (benar-salah, menjodohkan, pilihan berganda, dan jawaban singkat) dan tes esai yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengukur, menghubungkan, mengintegrasikan, dan menilai suatu ide. Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai, dan sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya apabila ia telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Untuk menilai tujuan belajar siswa yang berhubungan dengan sikap dan nilai, maka perlu dikumpulkan data siswa dengan berbagai cara, misalnya dengan meneliti tingkah laku siswa, juga pendapat atau komentar siswa mengenai sesuatu. Ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif ( memahami sesuatu) dan hasil belajar afektif ( kecenderungan untuk berperilaku). Tidak semua tujuan belajar psikomotor dapat diukur dengan tes, melainkan tujuan belajar yang bersifat keterampilan ini dapat diukur dengan kemampuan atau keterampilan siswa dalam mengerjakan sesuatu. 4. Makna, Tujuan, dan Fungsi Evaluasi Dalam dunia pendidikan, khususnya pembelajaran, evaluasi memiliki makna yang dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu sebagai berikut : a. Makna bagi siswa Dengan diadakannya evaluasi, maka dapat diketahui tingkat kesiapan siswa, apakah ia sudah sanggup menduduki jenjang pendidikan tertentu atau belum, siswa juga dapat mengetahui sejauh mana hasil yang telah dicapainya dalam mengikuti pembelajaran yang telah diberikan oleh guru. Bila siswa memperoleh hasil yang memuaskan maka ia akan memiliki motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat agar bisa mencapai hasil yang lebih baik lagi. Sebaliknya, bila hasilnya tidak memuaskan, ia tentunya akan berusaha agar lain kali hal itu tidak terulang lagi. b. Makna bagi guru Dengan hasil evaluasi yang diperoleh , guru dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan maupun siswa –siswa yang belum berhasil menguasai bahan. Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkannya sudah tepat bagi siswa, sehingga ia tidak perlu mengadakan perubahan terhadap pengajaran yang akan datang dan guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum, sehingga ia dapat mempersiapkan metode yang lebih mapan untuk proses pengajaran selanjutnya. c. Makna bagi sekolah Hasil evaluasi (a) akan merupakan cermin dari kualitas suatu sekolah, dengan mengetahui apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum,(b) informasi yang diperoleh dari guru berdasarkan hasil evaluasi mengenai tepat atau tidaknya kurikulum untuk sekolah ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa yang akan datang, dan (c) informasi hasil evaluasi ini juga dapat dijadikan sebagai pedoman bagi sekolah mengenai aktivitas yang dilaksanakannya, apakah sudah memenuhi standar atau belum. Tujuan khusus dari kegiatan evaluasi adalah : a. Untuk merangsang kegiatan siswa dalam dalam menempuh program pendidikan b. Untuk mencari dan menentukan faktor-faktor penyebab keberhasilan atau kegagalan siswa dalam mengikuti program pendidikan pada umumnya dan program pembelajaran pada khususnya. c. Untuk memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan, dan bakat siswa yang bersangkutan. d. Untuk memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan oleh orang tua siswa dan lembaga pendidikan. e. Untuk memperbaiki mutu proses pembelajaran, baik cara belajar siswa maupun metode yang digunakan guru dalam mengajar. Dengan demikian tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses pembelajaran adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan pembelajaran pada siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Fungsi Evaluasi yaitu : a. Sebagai penempatan (placement test) b. Berfungsi formatif c. Berfungsi diagnostik d. Berfungsi sumatif e. Berfungsi selektif f. Berfungsi sebagai pengukur keberhasilan 5. Prinsip-prinsip Evaluasi Ada tujuh prinsip yang harus diperhatikan dalam guru yang pada intinya menjadi faktor pendukung atau penunjang dalam melakukan evaluasi yang berhasil. a. Prinsip berkesinambungan (continuity) Yaitu bahwa kegiatan evaluasi hasil belajar yang baik adalah evaluasi yang dilaksanakan secara terus-menerus (kontinu). Artinya, guru harus selalu memberikan evaluasi kepada siswa sehingga kesimpulan yang diambil akan lebih tepat. Dengan evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur, terencana, dan terjadwal, maka memungkinkan lagi guru untuk memperoleh informasi yang dapat memberikan gambaran mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik dari awal hingga akhir program pembelajaran. b. Prinsip menyeluruh ( comprehensive) Evaluasi dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh, mencakup keseluruhan aspek tingkah laku siswa, baik aspek berpikir ( cognitive domain), aspek nilai atau sikap ( affective domain), maupun aspek keterampilan ( psychomotor domain) yang ada pada masing-masing siswa. c. Prinsip objektivitas (objectivity) Alat evaluasi yang digunakan hendaknya mempunyai tingkat kebebasan dari subjektivitas atau bias pribadi guru yang bisa mengganggu. Suatu evaluasi dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam pelaksanaannya tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi, baik yang menyangkut bentuk evaluasi maupun dari pihak evaluator sendiri. d. Prinsip validitas ( validity) dan reliabilitas (reliability) Validitas atau kesahihan merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa alat evaluasi yang dipergunakan, benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur. Validitas merupakan ketepatan, dalam arti relevan dengan permasalahannya. Sedangkan reliabilitas menurut Sekaran dalam Sudaryono, 2012) adalah suatu pengukuran sejauh mana pengukuran tersebut tanpa bias (bebas kesalahan – error free) dan karena itu menjamin pengukuran yang lintas waktu dan lintas beragam item dalam instrument. e. Prinsip penggunaan kriteria Kriteria digunakan pada saat memasuki tingkat pengukuran, baik pengukuran dengan menggunakan standar mutlak (penilaian acuan patokan) maupun pengukuran dengan standar relatif ( penilaian acuan norma). Penilaian acuan norma adalah menetukan kedudukan siswa berdasarkan jumlah jawaban yang benar, sedangkan penilaian acuan norma dilakukan dengan membenadingkan nilai yang diperoleh seorang siswa dengan nilai-nilai siswa lainnya di kelas tersebut. f. Prinsip kegunaan Evaluasi yang dilakukan hendaklah merupakan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi siswa maupun bagi pelaksana. Kemanfaatan ini diukur dari aspek waktu, biaya, dan fasilitas yang tersedia maupun jumlah siswa yang akan mengikutinya. DAFTAR PUSTAKA Ormrod, 2008. Psikologi Pendidikan. Penerbit Erlangga : Jakarta. Sudaryono, 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran. Graha Imu : Yogyakarta.