Selasa, 08 Januari 2013

metode pembelajaran ekspositori, discovery, dan inkuiri

METODE PEMBELAJARAN EKSPOSITORI, DISCOVERY, DAN INKUIRI


    PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu pelajaran inti di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan   (KTSP). Setiap tahun matematika diujikan melalui Ujian Nasional (UN) untuk melihat tingkat keberhasilan belajar siswa. Namun, banyak siswa yang mengeluhkan karena sulitnya pelajaran ini. Matematika merupakan mata pelajaran yang sulit untuk diajarkan maupun dipelajari. Untuk itu, guru perlu secara terus menerus memberikan motivasi belajar kepada siswa, yang diantaranya guru harus inovatif dalam proses pembelajaran. Guru harus mampu membuat suasana kelas yang menyenangkan, sehingga siswa lebih tertarik untuk membuktikan kebenaran dalam matematika selain hanya untuk mempelajari guna ujian.
Selain inovatif, guru juga harus efektif yang menurut Wahyudin (2008:27) adalah guru yang dapat meraih para siswa, mengapresiasi dan memahami kebutuhan-kebutuhan mereka serta mengupayakan cara-cara khusus dan individual untuk memuaskannya. Guru juga harus dapat menggunakan lebih banyak pemanfaatan benda-benda terutama yang ada disekitar siswa. Aktivitas-aktivitas harus direncanakan dengan baik guna untuk menciptakan model-model pembelajaran yang bermakna. Piaget (dalam Wahyudin, 2008:40) mengutarakan, “Untuk memahami, para anak harus menemukan – yakni, menemukan kembali – sebab mereka tak dapat memulai dari awal lagi. Akan tetapi, harus dikatakan bahwa apapun hanya dipahami sejauh bahwa itu ditemukan kembali”. Ini berarti bahwa benda-benda mesti digunakan oleh para siswa guna membantu mereka menemukan kembali.
Dalam proses pembelajaran, diperlukan juga strategi khusus seorang pendidik dalam mentransfer ilmu dan pembelajaran pada peserta didik.  Karena keberhasilan pengajaran matematika akan bergantung bukan pada materi-materi yang ada tetapi pada keahlian seseorang guru dalam memakai materi-materi pembelajaran dan rancangan kegiatan proses pembelajaran. Peran seorang guru merupakan seorang pemandu. Seorang pemandu yang baik memakai pertimbangan tentang kapan menjelajah serta bagaimana kembali ke jalan utama setelah perjalanan memutar (Wahyudin,2008 :39). Untuk meningkatkan kemampuan keterampilan siswa, rancangan pembelajaran tidak harus di dalam kelas tetapi bias di luar kelas seperti laboratorium matematika. Materi-materi laboratorium matematika dapat digunakan untuk memperluas atau memperkuat belajar.
Guru dapat meningkatkan metode-metode pengajaran matematika dengan mempelajari terlebih dahulu tentang berbagai strategi pengajaran. Salah satu cara untuk membuat siswa memahami materi yang dipelajari adalah dengan menggunakan metode-metode pembelajaran. Beberapa metode pembelajaran yang biasanya digunakan seorang guru adalah Inkuiri, Ekspositori, dan Discovery. Untuk itu, penulis akan memaparkan dalam makalah ini yaitu, Bagaimana menerapkan  ketiga metode pembelajaran tersebut? Apa prinsip-prinsip  dari metode-metode pembelajaran tersebut? Serta bagaimana peran guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran?

    PEMBAHASAN
    Ekspositori
    Pengajaran Ekspositori adalah pengajaran yang mengutamakan pengungkapan pengetahuan tentang fakta, konsep dan hukum/prinsip. Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus bicara. Ia berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-wakatu yang diperlukan saja. Murid tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan murid secara individual, menjelaskan lagi kepada murid secara individual, atau klasikal. Kalau dibandingkan dominasi guru dalam kegiatan belajar-mengajar, metode ceramah lebih terpusat pada guru daripada metode ekspositori. Pada metode ekspositori murid belajar lebih aktif daripada metode ceramah. Murid mengerjakan latihan soal sendiri, mungkin juga saling bertanya dan mengerjakannya bersama dengan temannya, atau disuruh membuatnya di papan tulis (dalam Suherman, 2003:171). Selain itu pada pengajaran ekspositori, sebagian besar melibatkan pertukaran informasi antara guru  dan siswa.
    Melihat perbedaan-perbedaan di atas, cara mengerjakan matematika yang pada umumnya digunakan para guru matematika adalah lebih tepat dikatakan sebagai menggunakan metode ekspositori daripada ceramah, karena guru memberikan pula soal-soal latihan untuk dikerjakan murid di kelas.    Beberapa hasil penelitian di Amerika serikat menyatakan metode ekspositori merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien. Demikian pula keyakinan sementara ahli teori belajar-mengajar David P.Ausubel berpendapat bahwa metode ekspositori yang baik merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien dalam menanamkan  belajar bermakna.
     Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (dikutip dari Sunartombs,2009) mengatakan metode ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah
 1) menyusun program pembelajaran
 2) memberi informasi yang benar
 3) pemberi fasilitas yang baik
 4) pembimbing siswa dalam perolehan informasi yang benar
 5) penilai prolehan informasi.
Sedangkan peranan siswa adalah
1) pencari informasi yang benar
2) pemakai media dan sumber yang benar
3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.

Ciri-ciri metode ekspositoris:
a. Guru mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir.
b. Mempersiapkan pertanyaan.
c. Mempertimbangkan dimana pertanyaan harus digunakan.
d. Tahapan mengajar dengan peta konsep.
e. Guru memberikan informasi melalui ceramah, demostrasi, atau tanya jawab.
f. Siswa mencatat, menjawab pertanyaan atau tugas.
g. Konsep sukar melalui proses induktif.

Prinsip –prinsip pengajaran Ekspositoris
Tabel 1
NO    Prinsip    Implikasi Pendidikan
1        Sebuah advanced organizer (pendahuluan verbal atau grafis yang menyajikan kerangka organisasional umum tentang materi yang akan dipelajari) membantu siswa membuat hubungan-hubungan yang bermakna di antara berbagai hal yang mereka pelajari.        Perkenalkan sebuah unit baru dengan menggambarkan ide-ide dan konsep utama yang akan dibahas dan tunjukkan bagaimana berbagai ide dan konsep itu saling berkaitan.
2        Hubungan yang berkesinambungan dengan pengetahuan awal, membantu siswa mempelajari materi di kelas secara lebih  bermakna, asalkan pemahaman dan keyakinan mereka saat ini akurat .        Ingatkan siswa akan sesuatu -yaitu mengaktivasi pengetahuan awal siswa- dan tunjukkan bagaimana suatu ide baru berhubungan pengetahuan awal tersebut. Juga angkatlah setiap kepercayaan siswa yang keliru tentang topik tersebut.
3        Penyajian materi yang terorganisasi (organized presentation) membantu siswa membuat salingketerkaitan yang tepat di antara berbagi ide/gagasan.        Bantulah siswa mengorganisasikan materi dalam suatu cara tertentu dengan menggunakan struktur organisasional untuk menyajikan informasi.
4        Berbagai tanda/isyarat (signals) yang menjadi bagian penting dari suatu presentasi.        Tekankan poin-poin yang penting, misalnya dengan menuliskannya di papan tulis, mengajukan pertanyaan tentang poin-poin tersebut, atau sekedar memberitahu siswa hal-hal mana yang paling penting untuk dipelajari.
5        Alat bantu visual (visual aids) membantu siswa mengkodekan materi secara visual dan juga verbal.        Ilustrasikan materi baru dengan gambar, foto, diagram, peta metode fisik, dan peragaan.
6        Tingkat kecepatan (pacing) yang tepat memberi siswa waktu yang cukup untuk memproses informasi.        Sajikan presentasi secara pelan sehingga siswa dapat menarik kesimpulan, membentuk pembayangan visual, dan terlibat dalam proses penyimpanan memori jangka panjang.
7        Rangkuman (summarize) membantu siswa mereviu dan mengorganisasikan materi serta mengidentifikasi ide-ide pokok.        Setelah kuliah atau tugas bacaan, rangkumlah poin-poin utamanya.
Sumber : Ormrod, J. E, 2008 : 163.

Langkah-langkah pembelajaran metode ekspositori. Ada beberapa langkah dalam penerapan strategi ekspositori, yaitu:
    Persiapan   (Preparation)                                                                                Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk menerima pelajaran. Dalam strategi ekspositori, langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan strategi ekspositori sangat tergantung pada langkah persiapan. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan di antaranya adalah:
1)         Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif;
2)         Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai;
3)         Bukalah file dalam otak siswa.
    Penyajian       (Presentation)
 Langkah penyajian adalah langkah penyampaian materi pelajaran sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Guru harus dipikirkan guru dalam penyajian ini adalah bagaimana agar materi pelajaran dapat dengan mudah ditangkap dan dipahami oleh siswa. Karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan langkah ini, yaitu:
1)         penggunaan bahasa,
2)         intonasi suara,
3)         menjaga kontak mata dengan siswa,dan
4)         menggunakan trik-trik yang menyenagkan
    Korelasi   (Correlation)
Langkah korelasi adalah langkah menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya. Langkah korelasi dilakukan untuk memberikan makna terhadap materi pelajaran, baik makna untuk memperbaiki struktur pengetahuan yang telah dimilikinya maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.
    Menyimpulkan          (Generalization)
Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan. Langkah menyimpulkan merupakan langkah yang sangat penting dalam strategi ekspositori, sebab melalui langkah menyimpulkan siswa akan dapat mengambil inti sari dari proses penyajian.
    Mengaplikasikan       (Application)
Langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting dalam proses pembelajaran ekspositori, sebab melalui langkah ini guru akan dapat mengumpulkan informasi tentang penguasaan dan pemahaman materi pelajaran oleh siswa. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini di antaranya:
1)         dengan membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan,
2)         dengan memberikan tes yang sesuai dengan materi pelajaran yang telah disajikan. ( dikutip dari Dayufunmath, 2012).
Sedangkan menurut Bell (1981:224), Activities in Teaching skills, concepts, and principles in expository teaching/learning metode are :
Tabel 2
NO    Activity    Mathematical Objects For Which The Activity is Appropriate
1.    Discuss objectives with students.    Skill, concept, principle
2.    Name the skill, concept, or principle.    Skill, concept, principle
3.    Identify and discuss prerequisite skills, concepts, and principles through a preassement strategy.    Skill, concept, principle
4.    Develop the skill through an example.
 Define the concept.
 Deduce or demonstrate the principle.    Skill
 Concept
 principle
5.    Demonstrate the skill, concept, or principle through several more examples.    Skill, concept, principle
6.    Have students develop the algorithm for the skill.
Compare examples and non –examples of the concept.
Apply the principle in several cases.    Skill

 Concept
 principle
7.    Have student practice the skills on several exercises.
Have students identify irrelevant dimensions of the concept.
Evaluate student mastery of the principle through a postassements strategy.    Skill 

Concept
principle
8.    Evaluate students mastery of the skills .
Have students practice using the concept.    Skill
principle
9.    Evaluate student mastery of the concept.    Concept

 Kelebihan  dan Kelemahan Strategi Ekspositori
1. Kelebihan
Strategi pembelajaran ekspositori merupakan strategi pembelajaran yang banyak dan sering digunakan. Hal ini disebabkan strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
    Dengan strategi pembelajaran ekspositori guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, ia dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
    Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terbatas.
    Melalui strategi pembelajaran ekspositori selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
    Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
2. Kelemahan
Di samping memiliki kelebihan, strategi ekspositori juga memiliki kelemahan, di antaranya:
    Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik. Untuk siswa yang tidak memiliki kemampuan seperti itu perlu digunakan strategi lain.
    Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
    Karena strategi lebih banyak diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
    Keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur (berkomunikasi), dan kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu sudah dapat dipastikan proses pembelajaran tidak mungkin berhasil. (dikutip dari dayufunmath, 2012)

Contoh Mengajar dengan Metode Ekspositori
Belajar menerima maupun menemukan sama-sama dapat berupa belajar menghafal atau bermakna. Misalnya dalam mempelajari konsep dalil Pythagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk terakhir c2 = b2 + a2 sudah disajikan (belajar menerima), tetapi siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku ; jadi ia belajar secara bermakna. Siswa lain memahami rumus c2 = b2 + a2 dari pencarian (belajar menemukan), tetapi bila kemudian ia menghafalkan c2 = a2 + b2 tanpa dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku, maka jadinya ia belajar menghafal.
b.)Metode Pembelajaran Discovery
Discovery adalah pembelajaran yang terjadi sebagai hasil dari manipulasi pembelajar, penstrukturan, dan transformasi informasi dengan demikian seseorang menemukan informasi baru. Dalam pembelajaran discovery, pembelajar dapat membuat sebuah dugaan, perumusan suatu hipotesis, atau menemukan kebenaran matematika dengan menggunakan proses induktif atau deduktif, observasi dan ekstrapolasi.  Elemen yang pokok dalam penemuan informasi baru adalah penemu harus mengambil bagian aktif dalam perumusan dan pencapaian informasi baru.  Penemuan ini dapat terjadi karena telah direncanakan oleh guru. ( Bell, 1981: 241)
Pada tahun 1960, Bruner mengusulkan teorinya yang disebut free discovery learning.  Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang menjadi sumbernya.  Dengan kata lain, siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum (Uno, 2010: 12).  
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran discovery, merupakan metode pembelajaran yang dalam belajarnya siswa diberi kesempatan oleh guru untuk menemukan sendiri penemuan baru bagi dirinya saja yang telah dirancang oleh guru.
Pembelajaran discovery dapat terjadi dalam situasi yang sangat terstruktur seperti buku guru atau buku siswa yang susunanya diprogram dari interaksi dimana siswa dibimbing langkah per langkah, format tanya-jawab untuk membuat penemuan yang sangat spesifik dan dapat diprediksikan.  Pada struktur yang lain, penemuan yang tanpa perencanaan dapat membuat siswa dalam masalah diskusi open-ended yang mereka rumuskan dan pertimbangkan dengan sedikit atau tanpa campur tangan guru.
Menurut Bell (1981: 242) metode discovery memiliki beberapa tujuan, antara lain:
1. melalui keterlibatan dalam pembelajaran discovery siswa belajar beberapa prosedur dan aktivitas yang diperlukan untuk membentuk benda-benda di luar lingkungan mereka
2.  siswa akan mengembangkan sikap dan strategi latihan
3. pembelajaran discovery membantu siswa menambah kemampuan mereka untuk menganalisis, mensistesis, dan mengevaluasi informasi dalam cara yang rasional
4.  ada reward intrinsic, seperti tertarik dalam tugas pembelajaran dan kepuasan dalam membuat sebuah penemuan, itu dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih efisien dan efektif dalam kelas matematika.
Diantara objek yang lebih spesifik dari pembelajaran discovery yang mudah untuk diamati dan diukur adalah sebagai berikut:
1.  Dalam pembelajaran discovery siswa mempuyai kesempatan untuk menjadi aktif termasuk dalam pembelajaran dan banyak siswa melakukan menambah level mereka dari partisipasi kelas ketika sebuah pengajaran discovery/metode pembelajaran  digunakan oleh guru.
2.  Melalui metode discovery siswa belajar untuk menemukan pola dalam situasi konkrit dan abstrak dan juga belajar untuk mengeksplorasi informasi tambahan degan di luar data yang diberikan
3.  Siswa juga belajar untuk merumuskan strategi pertanyaan yang tidak ambigu dan menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapat informasi yang berguna untuk membuat penemuan-penemuan
4.  Pembelajaran discovery dapat membantu siswa mengembangkan cara yang efektif dari bekerja bersama, berbagi informasi, dan mendengarkan serta menggunakan ide-ide orang lain
5.  Pembelajaran discovery membuktikan untuk mengindikasi kemampuan, konsep, dan prinsip dalam pembelajaran melalui discovery lebih bermakna untuk siswa dan diingat untuk periode waktu yang lama.
6.  Keahlian dipelajari dalam suasana pembelajaran discovery, dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktivitas pembelajaran baru dan diterapkan di berbagai situasi.
Bell dalam bukunya “Teaching and Learning Mathematics” mengungkapkan karakteristik metode Discovery:
 Situasi kelas untuk Pembelajaran Discovery
Pembelajaran discovery dapat terjadi selama guru mengajar, dalam kelompok diskusi. Melalui aktivitas kelompok, melalui percobaan laboratorium matematika, dan dalam situasi kelas yang tidak terstruktur.  Bagaimanapun kemungkinan siswa akan membuat penemuan ketika guru memimpin pembelajaran yang terus menerus atau dalam situasi kelas yang tidak terstruktur secara lengkap adalah kecil. 
 Strategi Penemuan Induktif dan Deduktif
Strategi penemuan induktif dikarakteristikkan sebagai perumapamaan khusus ke umum dan strategi deduktif berangkat dari perumapamaan umum ke khusus.  Dalam menggunakan metode penemuan induktif, pembelajar menggunakan intuisi (dan beberapa logika) untuk merumuskan generalisasi dari pengamatannya dari beberapa benda-benda yang dibangun dalam situasi yang berkaitan, teknik, metode pemecahan masalah (problem solving).  Ketika strategi penemuan deduktif digunakan, pembelajar menggunakan logika (dan beberapa intuisi) untuk merumuskan sebuah generalisasi berdasarkan ide abstrak dan generalisasi lainnya.  Kemudian membangun genaralisasi dari contoh dan aplikasi dari yang baru ditemukan.
Setiap pembelajaran discovery harus dimulai dengan informasi yang telah diketahui dan diproses langkah demi langkah ke informasi baru dan penemuan umum  Pembelajaran discovery dapat dilakukan melalui metode ekspositori yang diarahkan oleh guru atau melalui aktivitas laboratorium yang berpusat pada siswa.  Dalam beberapa pembelajaran discovery, guru dapat memilih aktivitas yang diperlukan siswa untuk menggunakan proses induktif; pembelajaran discovery lainnya mungkin membutuhkan penggunaan dari proses deduktif.
  Guru dapat memulai sebuah pembelajaran  penemuan ekspositori dengan memeriksa kembali informasi yang relevan, menampilkan situasi yang seharusnya dapat menimbulkan hasrat penemuan, dan menyusun aturan petunjuk untuk diskusi subsequent.  Selama diskusi, guru harus menjawab pertanyaan siswa dan harus meminta pertanyaan utama atau meyediakan sebuah informasi yang relevan ketika diskusi kontrol siswa kelihatan menemui hambatan.  (Bell, 1981: 245)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan pembelajaran discovery dapat dilakukan melalui strategi ekspositori dengan partisipasi siswa sebagai suatu kelompok.  Penemuan-penemuan matematika dapat juga dilakukan dengan pekerjaan siswa bersama dalam kelompok kecil atau dengan pekerjaan siswa secara individual dalam latihan laboratorium. 
Berikut merupakan beberapa pertimbangan untuk melakukan pembelajaran discovery dan beberapa aktivitas yang dapat dipilih yang termasuk dalam ekspositori dan pembelajaran discovery laboratorium yang melibatkan salah satu proses induktif atau deduktif:
    Setiap pembelajaran discovery harus dimulai dengan informasi yang telah diketahui dan diproses langkah demi langkah ke informasi baru dan penemuan umum
    Strategi pre assessment harus digunakan untuk mengetahui apakah siswa memproses keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan  untuk membuat setiap penemuan induktif yang diharapkan.
    Preassessment seharusnya juga digunakan untuk meyakinkan siswa mengetahui konsep dan prinsip-prinsip yang diperlukan untuk setiap penemuan deduktif.
    Guru harus mengizinkan siswa untuk membuat sebuah penemuan dengan beberapa cara, dan harus menyediakan untuk dan menerima penemuan alternatif.
    Jangan terlalu menggunakan strategi discovery, mereka dapat menghabiskan waktu dan frustasi untuk siswa jika digunakan terus menerus.
    Pertanyaan-pertanyaan yang memimpin dan isyarat lainnya dapat digunakan sebagai pendorong ketika pembelajaran discovery menjadi terbenam
Contoh Metode Discovery
    Pengajaran dengan metode discovery berharap agar siswa benar-benar aktif belajar menemukan sendiri bahan yang dipelajarinya.  Contoh untuk mengajarkan sifat komutatif perkalian dengan penemuan, siswa diberi sejumlah soal perkalian sebagai berikut:






                                                                  (Tim MKPBM, 2001:177). 
c) Metode Inkuiri
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris “inquiry” yang berarti penyelidikan. Piaget (dalam Rosalin, 2008:61), mengemukakan bahwa metode inquiry merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawaban sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, dan membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.
Salah satu tujuan mengajar dengan metode inkuiri adalah agar siswa tahu dan belajar metode ilmiah dengan inkuiri dan mampu mentransfer ke dalam situasi lain dari dunia sekitar mereka melalui keterlibatan aktif dengan pengalaman dikehidupan nyata. Metode ilmiah dan inkuiri menurut The Access Center (2009,2) mempunyai komponen dasar yang sama yaitu mengharuskan siswa untuk melakukan investigasi penelitian dengan merumuskan pertanyaan, mengembangkan hipotesis, melakukan eksperimen, perekaman data, menganalisis data, dan kesimpulan gambar. Hal ini dapat dilihat dari tabel dibawah ini :
Tabel 3. Metode Ilmiah dan Inkuiri
Metode Ilmiah    Inkuiri
Pertanyaan atau masalah    Fase Inkuiri (Pertanyaan atau Masalah)
Hipotesis    Pengumpulan Data Tahap I (Hipotesis)
Percobaan    Pengumpulan Data Tahap II (Pengumpulan Data & Analisis)
Catatan    Pelaksanaan Fase (Kesimpulan dan Penjelasan)
Analisis Data   
Kesimpulan   
Sedangkan perbedaan dari metode ilmiah dan inkuiri adalah proses inkuiri menyediakan lebih banyak kesempatan pada siswa untuk bergerak didalam dan diantara fase-fase penyelidikan (proses pemecahan masalah). Guru sebagai pemandu pertanyaan dan moderator dalam proses ini sehingga dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan dari siswa. 
Metode ini terdiri atas empat tahap menurut Suherman (2003:213) adalah ;
    Guru merangsang siswa dengan pertanyaan, masalah, permainan, dan teka-teki.
    Sebagai jawaban atas rangsangan yang diterimanya, siswa menentukan prosedur mencari dan mengumpulkan informasi atas data yang diperlukannya untuk memecahkan pertanyaan, pernyataan dan masalah.
    Siswa menghayati pengetahuan yang diperolehnya dengan inkuiri yang baru dilaksanakan.
    Siswa menganalisis metode inkuiri dan prosedur yang ditemukan untuk dijadikan metode umum yang dapat diterapkannya ke situasi lain.
Sedangkan menurut Bell (1981:340), The four steps or stages of an inquiry into a situation are :
    Formulating a question, encountering a puzzle, paradox, or inconsistency, or attempting to organize a set of facts, concepts and principles into a general and inclusive principle.
    Developing procedures and collecting information which may be useful in resolving the situation under consideration.
    Using the procedures and information from step 2 to reorganize and extend existing knowledge.
    Analyzing and evaluating the inquiry process itself in order to develop general processes for investigating other situations.
Inkuiri mempunyai beberapa fase, yaitu :

Metode Inkuiri dalam The Access Center (2009,3) diharapkan dapat membuat siswa mempunyai keterampilan berupa :
    Melakukan pengamatan
    Melakukan percobaan
    Bekerjasama dengan orang lain dalam melakukan investigasi
    Melakukan pengukuran
    Mengurutkan dan mengelompokkan
    Membandingkan dan menjelaskan
    Mencatat penemuan
    Menganalisis penemuan
    Saling berbagi hasil dengan lainnya
Keunggulan teknik inkuiri dalam proses belajar-mengajar dalam Rosalin (2008:63) adalah:
    Dapat membentuk dan mengembangkan self consept pada diri siswa sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik;
    Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru;
    Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur, dan terbuka;
    Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri;
    Situasi belajar lebih merangsang;
    Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individual;
    Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri dan siswa dapat menghindari dari cara-cara belajar tradisional;
    Dapat memberi waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Pada proses pembelajaran, metode inkuiri yang diterapkan kepada siswa dapat ditingkatkan tekniknya. Menurut Sund and Trowbridge (Rosalin, 2008:63), metode inkuiri terbagi atas tiga macam, yaitu sebagai berikut :
    Inkuiri terpimpin (guide inquiry),
    Inkuiri bebas (free inquiry),
    Inkuiri bebas yang dimodifikasi (modified free inquiry)
INKUIRI DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI KELAS
    Dalam proses pembelajaran di kelas yang menggunakan metode inkuiri, guru sebagai “fasilitator pembelajaran” dalam pembelajaran dengan inkuiri sering terdiri dari kelompok kerja, bekerjasama, siswa menginvestigasi, dan eksplorasi luar ruangan. Siswa mengajukan beberapa pertanyaan, menimbulkan hipotesis, penelitian dan percobaan, menganalisis data, dan memberikan penjelasan sebagai bukti. The National Science Education Standards (NSES) menyatakan bahwa “ilmu sebagai pertanyaan” sebagai standar penting semua siswa yang harus dikuasai sebelum kelulusannya. Dengan inkuiri, siswa didorong untuk interaktif, yang pada umumnya lebih aktif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
    Peran guru sebagai fasilitator pembelajaran yang membimbing siswa dalam metode inkuiri. Guru dapat menggunakan tiga tipe inkuiri :
    Terstruktur
Berpusat pada guru dengan guru menyediakan prosedur cukup terstruktur untuk kegiatan inkuiri, dan siswa melakukan penyelidikan. Cara ini juga dapat digambarkan sebagai metode yang paling konvensional untuk inkuiri.
    Terpimpin
Pada metode ini, paling sedikit intervensi guru dan siswa dibimbing. Siswa bekerjasama dalam kelompok dan merencanakan semua tahap inkuiri. Metode ini yang paling murni dari inkuiri dalam kelas.
    Terbuka
Metode ini umumnya digunakan ketika siswa diminta untuk membuat peralatan atau mengembangkan proses yang menghasilkan suatu hasil yang diinginkan. Pada metode ini, guru hanya memberikan masalah kemudian siswa yang secara aktif untuk mencari solusi dan menimbulkan kreativitas. Siswa mampu mengembangkan pengetahuan mereka dengan menggunakan proses ilmiah mereka sendiri atau menggunkaan prosedur mereka.
Tabel 4. Metode Inkuiri di Dalam Kelas
Tipe Inkuiri    Deskripsi    Contoh
Terstruktur    Guru memberikan masalah yang terstruktur, prosedur, dan bahan. Siswa menyelidiki selama kegiatan berlangsung dan menentukan hasilnya.    Kegiatan dalam laboratorium dengan prosedur, bahan, dan lainnya telah ditentukan.
Terpimpin    Guru memberikan siswa masalah atau pertanyaan dan materi. Siswa menentukan proses dan hasil.    Siswa diberikan kertas grafik. Siswa diminta untuk membuat grafik fungsi kuadrat.
Terbuka    Siswa menentukan masalah, investigasi, prosedur, dan hasil.    Siswa diajak kunjungan ke kebun binatang, kemudian siswa dapat secara berpasangan menentukan himpunan dan bukan himpunan beserta namanya.
Dalam melaksanakan metode inkuiri, guru menurut Washington Virtual Classroom tahun 2005 (dalam The Access Center, 2009:6) sebaiknya:
    Memberika pertanyaan terbuka
    Memberi waktu setelah mengajukan pertanyaan
    Tidak menceritakan kepada siswa tentang apa yang harus dilakukan
    Tidak menolak atau mengecilkan ide dari siswa
    Mendorong siswa untuk menemukan solusi sendiri
    Mendorong siswa untuk saling berkolaborasi
    Menjaga suasana kelas agar tetap tertib
    Mengembangkan dan menggunakan penilaian berbasis inkuiri untuk memantau kemampuan siswa
    Mengetahui pertanyaan yang bias menantang beberapa siswa dan bersiap untuk memandu ketika siswa mulai bosan.
CONTOH METODE INKUIRI :
Dalam teori geometri, menarik jarak antara dua garis yang bersilangan sembarang dalam ruang dan menentukan volume air yang terbuang percuma dari satu teko ke gelas.
Contoh dalam Pembelajaran Matematika :
Menentukan rumus volume bola dari volume kerucut yang telah diketahui:

Disiapkan sebuah kerucut yang mempunyai jari-jari sama dengan tingginya, lalu isi beras atau pasir dengan penuh dan rata permukaan. Kemudian masukkan kedalam bola yang ukuran diameter bola sama dengan diameter kerucut. Isilah bola terus sampai penuh. Maka pada isi yang keempat maka bola penuh sehingga dapat disimpulkan :
Vkerucut   = 1/3  x Luas alas x Tinggi
 = 1/3  x πr^2 x t        
Karena t = r maka:
 =  1/3  x πr^2 x r
 = 1/3  x πr^3
Karena beras atau pasir yang dimasukkan ke dalam bola sebanyak empat kali maka didapatkan volume bola adalah :
Vbola  = 1/3  x πr^3 + 1/3  x πr^3 + 1/3  x πr^3 + 1/3  x πr^3
= 4 x 1/3  x πr^3
= 4/3  x πr^3
Maka dapat disimpulkan bahwa Vbola = 4/3  x πr^3.
Tabel 5.
PERBEDAAN METODE INKUIRI, EKSPOSITORI, DAN DISCOVERY
NO    PERBEDAAN    INKUIRI    DISCOVERY    EKSPOSITORI
1    Penemu    Melalui ekspositori, kelompok, dan secara sendiri-sendiri        Kelompok-kelompok kecil (di laboratorium, bengkel, atau kelas)
2    Penemuan hasil akhir    Belum dapat diketahui oleh guru    Harus ditemukan siswa merupakan sesuatu yang baru bagi dirinya, tetapi sudah diketahui oleh guru   
3    Fungsi guru    Sebagai pengarah dan pembimbing. Guru menjadi sumber informasi data yang diperlukan       
4    Fungsi siswa    Mengumpulkan informasi tambahan, membuat hipotesis, dan mengujinya    Diharapkan menemukan sesuatu yang penting   

    PENUTUP
Dari pemaparan dan penjelasan tentang metode pembelajaran inkuiri, ekspositori, dan discovery serta bagaimana cara penerapannya, diharapkan guru sebagai seorang pemandu kegiatan pembelajaran akan lebih mudah dalam membantu siswa belajar.  Penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi akan memotivasi siswa untuk belajar, penggunaan salah satu metode pembelajaran secara terus-menerus, akan membuat siswa menjadi jenuh, selain penggunaan metode tertentu dalam waktu lama akan menimbulkan dampak negatif, karena setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pada pembahasan dapat dipahami bahwa inkuri, ekspositori, dan discovery adalah metode-metode pembelajaran yang bisa memiliki perbedaan, kelebihan dan kekurangan masing-masing, meskipun tujuan sama, yaitu skenario kegiatan untuk mempermudah  siswa belajar. Selain itu setelah mengenal dan mengerti cara penggunaan metode pembelajaran inkuri, ekspositori, dan discovery, perlu bagi seorang guru untuk mempelajari metode-metode lain, karena seni pengajaran yang baik adalah memberikan metode-metode yang baik sesuai materi dan kemampuan siswa. Semua siswa, berapapun usianya, perlu diberi metode-metode yang dapat membantu mereka membangun jembatan-jembatan menuju abstraksi matematika (dalam Wahyudin, 2008).

DAFTAR PUSTAKA
Bell, Frederick H. (1981). Teaching and Learning Mathematic (In Secondary Schools).  The United States of America : Wm. C. Brown Company.
Dayufunmath. (2012).  Metode Ekspositori Dalam Pembelajaran Matematika.Tersedia : http://dayufunmath.wordpress.com/2012/01/12/metode-ekspositori-dalam-pembelajaran-matematika/. Diakses : 12 April 2012.
Ormrod, J.E. (2008). Psikologi Pendidikan. Penerbit Erlangga : Jakarta.
Suherman, Erman. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia : Bandung.
Sunartombs.(2009). Pengertian Metode Ekspositori. Tersedia : http://sunartombs.wordpress.com/2009/03/09/pengertian-metode-ekspositori/. Diakses : 21 April 2012. Tim MKPBM.  2001.  Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia : Bandung.
Uno B, Hamzah.  (2010).  Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran.  Jakarta:         Bumi Aksara
Tim MKPBM.  (2001).  Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Universitas Pendidikan Indonesia : Bandung.
The Access Center. (2007). Science Inquiry: The Link to Accessing the General Education Curriculum. Tersedia : http://www.k8accesscenter.org/training_resources/ScienceInquiry_accesscurriculum.as. Diakses : 5 April 2012.
Wahyudin. (2008). Pembelajaran Dan Metode-Metode Pembelajaran. CV. Ipa Abong : Jakarta.


hakikat pendidikan

http://www.slideshare.net/egaeriga/hakikat-pendidikan-15906595

bagaimana menulis tes uraian

http://www.slideshare.net/egaeriga/bagaimana-menulis-tes-uraian

pengembangan tes obyektif

PENGEMBANGAN TES OBYEKTIF Tes objektf digunakan bila : Kelompok yang akan dites banyak dan tesnya akan digunakan lagi berkali-kali. Skor yang diperoleh diperkirakan akan dapat dipercaya ( mempunyai reliabilitas yang tinggi). Guru lebih mampu menyusun tes bentuk objektif daripada tes bentuk esai ( uraian). Hanya mempunyai waktu sedikit untuk koreksi dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk menyusun tes. Berbagai macam tes objektif yang digunakan dalam evaluasi pembelajaran, yaitu : Tes Benar-Salah (True-False) Soal-soalnya berupa pertanyaan (statement). Statement tersebut ada yang benar dan ada yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pertanyaan itu dengan melingkari huruf B jika pertanyaan itu betul menurut pendapatnya, dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah. Jumlah huruf B-S harus sama banyak dengan dengan jumlah pertanyaan atau pernyataan. Bentuk Benar-Salah ada 2 macam ( dilihat dari segi mengerjakan/menjawab soal), yaitu : Dengan pembetulan (with correction) yaitu siswa diminta membetulkan bila ia memilih jawaban yang salah. Tanpa pembetulan ( without correction) yaitu siswa hanya diminta melingkari huruf B atau S tanpa memberi jawaban yang betul. Kebaikan tes benar-salah adalah : Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya singkat. Mudah menyusunnya Dapat digunakan berkali-kali Dapat dilihat secara cepat dan objektif Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti Kelemahan tes benar-salah adalah : Sering membingungkan Mudah ditebak/diduga Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan kembali, sangat sulit mengembangkan soal yang berhubungan dengan problem solving Guru akan mengalami kesulitan dalam menginterpretasi kemampuan siswa yang sebenarnya . Tingkat reliabilitas yang sangat rendah. Kurang dapat digunakan sebagai alat diagnosa kesulitan belajar siswa Validitas soal juga sangat diragukan kebenarannya. Petunjuk penyusunan : Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item dengan maksud untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (scoring) Usahakan agar jumlah butir soal yang harus dijawab B sama dengan butir soal yang harus dijawab S. Dalam hal ini hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur misalnya : B – S – B - S – B – S atau SS – BB – SS – BB – SS Hindari item yang masih bisa diperdebatkan Hindarilah pertanyaan – pertanyaan yang persis dengan buku. Hindarilah kata-kata yang menunjukkan kecenderungan memberi saran seperti yang dikehendaki oleh item yang bersangkutan, misalnya : semuanya, tidak selalu, tidak pernah, dan sebagainya. Cara mengolah skor : Rumus untuk mencari skor akhir bentuk benar-salah ada 2 macam, yaitu : Dengan denda Dengan pengertian : S = skor yang diperoleh R = right ( jawaban yang benar ) W = wrong ( jawaban yang salah ) Contoh : Jumlah soal tes = 10 soal. A menjawab betul 8 soal dan salah 2 soal, Maka skor untuk A adalah : 8 – 2 = 6 Dengan menggunakan rumus seperti ini maka ada kemungkinan seorang siswa memperoleh skor negatif. Tanpa denda Rumus : S = R Yang dihitung hanya yang betul ( untuk soal yang tidak dikerjakan dinilai 0 ) Contoh soal Benar-salah, Materi Faktor dan kelipatan kelas 4 SD Petunjuk :Lingkarilah B bila menurutmu pernyataan berikut ini benar, atau lingkarilah S bila menurutmu pernyataan berikut ini salah : Faktor dari suatu bilangan adalah bilangan-bilangan yang dapat membagi habis (bersisa nol) bilangan tertentu B – S 12, 15, 30 adalah kelipatan persekutuan dari 3 dan 5 B – S Faktor dari 12 adalah 1, 2, 3, 4, 6, dan 12 B – S Faktor persekutuan dari 12 dan 18 adalah 1, 3 dan 6 B – S FPB dari 21 dan 28 adalah 7 B – S Faktorisasi prima dari 60 adalah 2 x 32 x 5 B – S Bilangan prima adalah bilangan yang hanya memiliki 1 faktor B – S 1, 2, 3, 5 adalah bilangan prima B – S Bilangan prima antara 1 dan 12 adalah 2, 3, 5, 7, dan 11 B – S Dua buah lampu dinyalakan bersama-sama, lampu hijau menyala setiap 15 detik dan lampu merah menyala setiap 12 detik. Pada detik ke 30 maka kedua lampu akan menyala secara bersamaan. B – S Tes Pilihan Ganda Menurut Arikunto (2004) , hal-hal yang perlu diperhatikan dalam tes pilihan ganda, yaitu : Instruksi pengerjaannya harus jelas, dan bila dipandang perlu baik disertai contoh mengerjakannya. Dalam multiple choice test hanya ada satu jawaban yang benar. Kalimat pokoknya hendaknya mencakup dan sesuai dengan rangkaian mana pun yang dapat dipilih. Kalimat pada butir soal hendaknya sesingkat mungkin. Usahakan menghindari pengunaan bentuk negatif dalam kalimat pokoknya, Kalimat pokok dalam setiap butir soal, hendaknya tidak tergantung pada butir-butir soal lain. Gunakan kata-kata : “ manakah jawaban paling baik”, pilihlah satu yang pasti lebih baik dari yang lain”, Dari segi bahasa, butir-butir soal jangan terlalu sukar Tiap butir soal hendaknya mengandung satu ide, meskipun ide tersebut dapat kompleks, Bila dapat disusun urutan logis antar pilihan-pilihan , urutkanlah ( misalnya urutan tahun, alphabet, dan sebagainya), Susunlah agar jawaban manapun mempunyai kesesuaian tata bahasa dengan kalimat pokoknya, Alternatif yang disajikan hendaknya agak seragam dalam panjangnya, sifat uraiannya maupun taraf teknis Alternatif yg disajikan hendaknya agak bersifat homogen mengenai isi dan bentuknya Buatlah jumlah alternatif pilihan ganda Hindarkan pengulangan suara atau pengulangan kata pada kalimat pokok di alternatif-alternatifnya. Tes pilihan ganda paling sering digunakan karena : Tipe tes disusun dan digunakan untuk mengukur semua standar kompetensi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Jumlah alternatif jawaban (option) lebih dari dua sehingga dapat mengurangi keinginan siswa untuk menebak Menuntut kemampuan siswa untuk membedakan berbagai tingkat kebenaran sekaligus. Tingkat kesukaran butir soal dapat dapat dikendalikan dengan hanya mengubah tingkat homogenitas alternatif jawaban. Bentuk tes formatif pilihan ganda di skor secara objektif, karena pemeriksaan atau penskorannya tidak selalu dilakukan oleh manusia tapi dapat dilakukan mesin scanner. Dua jenis tes pilihan Ganda yaitu : Tes pilihan ganda Biasa Tes pilihan ganda menurut Gronlund ( Dalam Sudaryono, 2012) digunakan untuk mengukur kemampuan ingatan , pemahaman, dan penerapan yang lebih kompleks. Bentuk tes ini juga dapat digunakan untuk mengukur kemampuan siswa yang lebih tinggi dan dapat diskor secara objektif. Wujud soal pilihan ganda terdiri atas : Dasar pernyataan/stimulus Pokok soal/stem Pilihan jawaban yang terdiri kunci jawaban dan pengecoh. Contoh soal pilihan Ganda Biasa : Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf A, B, C, atau D ! Hasil dari ( - 18 + 2 ) : ( -3 -1 ) adalah ... a. -5 b. -4 c. 4 d. 5 Seorang anak yang tingginya 160 cm memiliki panjang bayangan 2 meter. Pada saat yang sama sebuah tiang memiliki panjang bayangan 5 meter. Tinggi tiang sebenarnya adalah ... a. 3,6 m b. 4 m c. 4,6 m d. 5 m Banyak sisi pada prisma dengan alas segi-7 adalah ... a. 8 b. 9 c. 14 d. 21 Tes Pilihan Ganda Assosiasi Contoh item yang digunakan untuk menjawab soal pilihan ganda asosiasi, yaitu : Apabila hanya (1), (2), dan (3) benar Apabila hanya (1) dan (3) benar Apabila hanya (2) dan (4) benar Apabila hanya (4) benar Apabila semuanya benar. Contoh soal tes pilihan ganda asosiasi : Jika pernyataan p bernilai salah dan q bernilai benar, maka pernyataan di bawah ini yang bernilai benar adalah ... "p ^(~q)" p V q p ↔q p →q Soal menjodohkan ( Matching Test) Soal menjodohkan adalah bentuk soal yang terdiri dari dua kelompok pernyataan. Kelompok pertama ditulis pada lajur sebelah kiri biasanya merupakan pernyataan soal atau pertanyaan sering juga disebut stimulus atau premis yang berupa kalimat. Kelompok kedua biasa disebut respon yang ditulis pada lajur sebelah kanan, biasanya merupakan pernyataan jawaban atau pertanyaan respon berupa kata, bilangan , gambar atau simbol. Peserta tes diminta untuk menjodohkan, atau memilih pasangan yang tepat bagi pernyataan yang ditulis pada stimulus yang terdapat di lajur sebelah kiri dengan respon yang yang terdapat pada lajur sebelah kanan. Menurut arikunto ( dalam Sudaryono, 2012) bentuk soal menjodohkan sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik yang sangat sederhana, yaitu kemampuan untuk mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana, dan kemampuan mengidentifikasi kemampuan menghubungkan antara dua hal. Keunggulan soal menjodohkan menurut Athanasou dan lamprianou ( dalam Sudaryono, 2012) yaitu : Luasnya materi yang dapat dicakup. Relatif lebih mudah dibuat butir soal Ringkas dan ekonomis dilihat dari segi cara memberikan jawaban Dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan mudah dalam penskorannya Kelemahan soal menjodohkan, adalah : Adanya kecenderungan untuk mengukur kemampuan mengingat dan kuarang tepat digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Sukarnya menjaga kehomogenan isi premis maupun respon khususnya ditinjau dari segi kesamaan kemampuan yang hendak diukur Kemungkinan menebak dengan benar relatif tinggi. Cara mengolah skor : dihitung S = R Artinya skor terakhir dihitung jawaban yang benar saja. Tes Isian ( Completion Test) Completion test atau tes isian, atau tes meyempurnakan atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagian yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yg kita minta dari murid. Petunjuk penyusunan tes isian : Perlu selalu diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan lebih dari satu jawaban yang kelihatan logis. Jangan mengutip kalimat/pernyataan yang tertera pada buku/catatan. Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjang. Diusahakan hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai lebih dari satu tempat kosong. Jangan mulai dengan tempat kosong. Soal Jawaban Singkat Adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban singkat, berupa kata prase, nama tempat, nama tokoh, lambang, atau kalimat yang sudah pasti. Beberapa kemampuan atau indikator yang dapat yang dapat diukur dengan soal jawaban singkat yaitu : Kemampuan menyebutkan istilah. Kemampuan menyebutkan fakta. Kemampuan menyebutkan prinsip Kemampuan menyebutkan metode atau prosedur. Kemampuan menginterprestasi data sederhana. Kemampuan memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan angka Kemampuan memanipulasi symbol matematika Kemampuan melengkapi persamaan DAFTAR PUSTAKA Aprianti, Rini dan Suherman. 2008.Buku Pintar Matematika Lengkap SD.Bandung. Penerbit Episilon Grup. Arikunto, Suharsimi. (2008). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara Sobirin. 2011. Kompas Matematika. Bekasi. Quantum Media. Sudaryono. 2012. Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Langkah-langkah pengembangan instrumen non tes

PENGEMBANGAN NON TES Langkah-langkah pengembangan instrumen non tes menurut Ekawati dan Sumaryanta (2011:51), yaitu: Menentukan spesifikasi instrumen Penentuan spesifikasi instrumen dimulai dengan menentukan kejelasan tujuan. Setelah menetapkan tujuan, kegiatan berikutnya menyusun kisi-kisi instrumen. Membuat kisi-kisi diawali dengan menentukan definisi konseptual, yaitu definisi aspek yang akan diukur menurut hasil kajian teoritik berbagai ahli/referensi. Selanjutnya merumuskan definisi operasional, yaitu definisi yang Anda buat tentang aspek yang akan diukur setelah mencermati definisi konseptual. Definisi operasional ini kemudian dijabarkan menjadi indikator dan ditulisan dalam kisi-kisi. Selanjutnya Anda perlu menentukan bentuk instrumen dan panjang instrumen. Menentukan skala penilaian Skala yang sering digunakan dalam instrumen penilaian antara lain adalah: Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik. Contoh: Tabel. Skala Thurstone Minat terhadap Pelajaran Matematika Pernyataan 7 6 5 4 3 2 1 Saya senang belajar matematika Pelajaran matematika bermanfaat Pelajaran matematika membosankan Dst. Tabel. Skala Likert Sikap terhadap Pelajaran Matematika Pelajaran matematika bermanfaat SL SR K TP Pelajaran matematika sulit SL SR K TP Tidak semua harus belajar matematika SL SR K TP Dst. SL SR K TP Keterangan: SL : Selalu; SR : Sering; K : Kadang-kadang; TP : Tidak Pernah Tabel. Skala Beda Semantik Pelajaran Matematika 7 6 5 4 3 2 1 Menyenangkan Membosankan Sulit Mudah Bermanfaat Sia-sia Menantamg Menjemukan Bany Sedikit Menulis butir instrumen Pada tahap ini butir-butir instrumen dirumuskan berdasarkan kisi-kisi. Pernyataan dapat berupa pernyataan positif dan negatif. Pernyataan positif merupakan pernyataan yang mengandung makna selaras dengan indikator, sedangkan pernyataan negatif adalah pernyataan yang berisi kontra kondisi dengan indikator. Menentukan penyekoran Sistem penyekoran yang digunakan tergantung pada skala pengukuran yang digunakan. Pada skala Thurstone, skor tertinggi tiap butir 7 dan skor terendah 1. Pada skala Likert, awal skor tertinggi tiap butir 5 dan terendah 1, karena sering terjadi kecenderungan responden memilih jawaban kategori tengah, maka dimodifikasi hanya menggunakan empat pilihan. Skor siswa dapat ditafsirkan dengan kriteria berikut: Tabel. Kriteria Penafsiran Interval Nilai Interpretasi X≥M_i+〖Sb〗_i M_i-〖Sb〗_i≤X

Bagaimana menulis tes uraian

BAGAIMANA MENULIS TES URAIAN Menurut Sunarya (2011:43) dalam menulis soal bentuk uraian, penulis soal harus mempunyai gambaran tentang ruang lingkup materi yang ditanyakan dan lingkup jawaban yang diharapkan, kedalaman dan panjang jawaban, atau rincian jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa. Dengan adanya batasan ruang lingkup, kemungkinan terjadinya ketidakjelasan soal dapat dihindari, serta dapat mempermudah pembuatan kriteria atau pedoman penyekoran. Karena itu kaidah umum yang terpenting dalam menulis soal bentuk uraian adalah, segera tulis kunci jawaban atau pokok-pokok jawaban yang mungkin diberikan oleh siswa beserta kriteria atau rentang skor yang mungkin diberikan, begitu selesai menulis soal. Sedangkan menurut Ilma (2011:73) menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian, yaitu menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Hal ini sesuai dengan kebaikan tes uraian yang dikemukakan oleh Sudijono (2011:102) bahwa dengan menggunakan tes uraian, tester akan terdorong dan terbiasa untuk berani mengemukakan pendapat dengan menggunakan susunan kalimat dan gaya bahasa yang merupakan hasil olahannya sendiri. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang digunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman penskoran. Bertitik tolak dari keunggulan-keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh tes hasil belajar bentuk uraian, maka dalam penyusunan butir-butir soal tes uraian ada beberapa petunjuk operasional yang dapat dijadikan pedoman seperti yang dikemukan oleh Sudijono (2011:104) sebagai berikut: Butir-butir soal diusahakan mencakup ide-ide pokok dari materi yang diajarkan. Susunan kalimat soal dibuat berlainan dengan susunan kalimat yang terdapat dalam buku pelajaran atau bahan lain yang diminta untuk dipelajari. Sesaat setelah butir-butir soal tes uraian dibuat, hendaknya segera disusun dan dirumuskan secara tegas, bagaimana atau seperti apakah seharusnya jawaban yang dikehendaki oleh testee sebagai jawaban yang betul. Dalam menyusun butir-butir soal tes uraian hendaknya diusahakan agar pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintahnya jangan dibuat seragam, melainkan secara bervariasi Kalimat soal hendaknya disusun secara ringkas, padat dan jelas, sehingga cepat dipahami oleh testee dan tidak menimbulkan keraguan atau kebingungan bagi testee dalam memberikan jawabannya. Pedoman tentang cara mengerjakan atau menjawab butir-butir soal dikemukakan. Kaidah khusus penulisan soal bentuk uraian (Sunarya:2011; Ilma:2011) adalah sebagai berikut: Materi Soal harus sesuai dengan indikator pada kisi-kisi. Artinya soal harus menyatakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan tuntutan indikator. Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan (ruang lingkup) harus jelas. Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran. Isi materi yang ditanyakan sesuai dengan jenjang, jenis sekolah dan tingkat kelas. Konstruksi Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai; seperti : mengapa, uraikan, jelaskan, hubungkan, tafsirkan, buktikan, hitunglah, dsb. Jangan menggunakan kata tanya yang tidak menuntut jawaban uraian, misalnya: siapa, dimana, kapan. Demikian juga kalimat tanya yang menuntut jawaban “ya” atau “tidak”, jangan digunakan. Buatlah petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal. Buatlah pedoman penyekoran segera setelah soal selesai ditulis dengan cara menguraikan komponen yang akan dinilai atau kriteria penskorannya, besarnya skor bagi setiap komponen, serta rentang skor yang dapat diperoleh untuk soal yang bersangkutan. Hal-hal lain yang menyertai soal (grafik, tabel, gambar, peta, atau yang sejenisnya) harus jelas dan terbaca, sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda. Bahasa Rumusan kalimat soal harus komunikatif, yaitu menggunakan bahasa yang sederhana, dan menggunakan kata-kata yang sudah dikenal siswa, serta baik dari segi kaidah bahasa Indonesia. Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran yang berbeda (salah pengertian) atau bermakna ganda. Jangan menggunakan bahasa yang berlaku setempat, jika para peserta berasal dari berbagai daerah. Rumusan soal tidak menggunakan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan testee. Sedangkan menurut Sukardi (2008:96) ketika menyusun tes esai harus memperhatikan cara-cara sebagai berikut: Fokuskan pertanyaan esai pada materi pembelajaran yang tidak dapat diungkap dengan bentuk tes lain misalnya tes objektif. Formulasikan item pertanyaan yang mengungkap perilaku spesifik yang diperoleh dari pengalaman hasil belajar. Item-item pertanyaan tes esai sebaiknya jelas dan tidak menimbulkan kebingungan sehingga para siswa dapat menjawab dengan tidak ragu-ragu. Sertakan petunjuk waktu pengerjaan untuk setiap pertanyaan, agar para siswa dapat memperhitungkan kecepatan berpikir, menulis dan menuangkan ide sesuai dengan waktu yang tersedia. Hindari pertanyaan pilihan, misalnya pilih empat soal dari lima soal pertanyaan yang tersedia, karena penggunaan pertanyaan pilihan dimungkinkan memengaruhi reliabilitas tes esai yang direncanakan. Berdasarkan beberapa pendapat mengenai pedoman, cara atau kaidah dalam penyusunan tes uraian dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang harus diperhatikan ketika menyusun tes uraian meliputi materi, konstruksi maupun penggunaan bahasa. Sehingga tujuan yang telah direncanakan dalam pelaksanaan tes uraian bisa tercapai. Untuk memastikan apakah soal itu sesuai dengan aturan atau tidak, gunakan kartu telaah berikut untuk menelaah setiap soal (Sunarya,2011:45) KARTU TELAAH SOAL URAIAN Nomor Soal : Perangkat No. ASPEK YANG DITELAAH YA TIDAK MATERI 1 Soal sesuai dengan indikator 2 Batasan pertanyaan dan jawaban yang diharapkan jelas 3 Isi materi sesuai dengan tujuan pengukuran 4 Isi materi yang ditanyakan sudah sesuai dengan jenjang, jenis sekolah, atau tingkat kelas KONSTRUKSI 5 Rumusan kalimat soal atau pertanyaan harus menggunakan kata tanya atau perintah yang menuntut jawaban terurai 6 Ada petunjuk yang jelas tentang cara mengerjakan soal 7 Ada pedoman penskoran 8 Gambar, Grafik, tabel, diagram dan sejenisnya disajikan dengan jelas dan terbaca BAHASA 9 Rumusan kalimat soal komunikatif 10 Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar 11 Rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda atau salah pengertian 12 Tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat 13 Rumusan soal tidak mengandung kata-kata yang dapat menyinggung perasaan siswa Catatan : P Daftar Pustaka Ilma, Ratu. 2011. Assecssment in Mathematics Education. Palembang. PPS Unsri Sunarya, Yaya. 2011. Strategi Meningkatkan Kualitas Tes Uraian. Bandung. UPI Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Widoyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

pengelompokan alat ukur

PENGELOMPOKKAN ALAT UKUR (TES DAN NON TES) A. TES Pengertian Tes Proses atau kegiatan untuk menilai sesuatu merupakan pengertian sederhana dari evaluasi, untuk dapat menenetukan nilai dari sesuatu yang sedang dinilai itu, dilakukanlah pengukuran, dan wujud pengukuran itu adalah pengujian. Pengujian dalam dunia kependidikan dikenal dengan istilah tes. Dalam bahasa Inggris tes ditulis test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “ujian” atau “percobaan”. Tes adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian (Sudijono, 2011:66). Adapun dari segi istilah, menurut Anne Anastasi (dalam Sudijono, 2011:66) yang dimaksud dengan tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu, sedangkan Menurut F.L. Goodenough, tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka, satu dengan yang lain. Berdasarkan dua pendapat tersebut dapat disimpulkan tes adalah cara atau prosedur dalam rangka penilaian atau pengukuran dalam bidang pendidikan yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas sehingga dari hasil pengukuran tersebut diperoleh nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi objek peniliaian, lalu nilai-nilai tersebut dibandingkan dengan nilai standar tertentu. Berdasarkan Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik menggunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, observasi, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Secara umum ada beberapa macam fungsi tes di dalam dunia pendidikan , yaitu : 1. Tes dapat berfungsi sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa dan juga sebagai alat untuk mengukur keberhasilan program pengajaran. 2. Tes berfungsi sebagai motivator dalam pembelajaran. 3. Tes dapat berfungsi untuk upaya perbaikan kualitas pembelajaran. Dalam rangka perbaikan kualitas pembelajaran ada tiga jenis tes yang perlu dibahas yaitu tes penempatan, tes diagnosis, dan tes formatif. Tes formatif adalah penilaian tentang prestasi siswa, yang terintegrasi dalam rencana pelajaran. Tes formatif dilakukan pada setiap periode waktu tertentu dan digunakan untuk memonitor kemajuan siswa. Tujuan tes formatif adalah untuk membantu siswa dan guru dalam proses belajar mengajar pada materi-materi yang khusus (tertentu) sehingga siswa mempunyai penguasaan yang tuntas (mastery). Berdasarkan bentuknya tes formatif dapat dibagi menjadi dua yaitu : (i) tes uraian/subjektif dan (ii) tes objektif. Menurut Widoyoko (2009:46) bentuk tes yang digunakan di lembaga pendidikan dilihat dari segi sistem penskorannya dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes subjektif. Kedua tes tersebut merupakan bagian dari tipe evaluasi yang direalisasiskan dalam bentuk tes tertulis (Sukardi, 2008:11). Secara umum tes objektif terdiri dari tiga tipe, yaitu: (1) benar salah (true false); (2) menjodohkan (matching); (3) pilihan ganda (multiple choice). Tes subjektif terdiri dari bentuk, yaitu : (1) tes uraian bebas (extended response test); (2) tes uraian terbatas (restricted response test). Pengelompokkan tes subjektif tersebut didasarkan pada kebebasan peserta untuk menjawab soal tes uraian. Baik tes objektif maupun subjektif keduanya memilki kelebihan dan kekurangan, hal ini dipengaruhi oleh karakteristik dan cakupan materi yang digunakan dalam tes tersebut. Sebagai contoh : kelebihan tes objektif adalah lebih refresentatif mewakili isi dan luas bahan, mudah dan cepat dalam hal memeriksanya, tidak ada unsur subjektif. Tetapi pada saat yang sama memilki kekurangan diantaranya: membutuhkan persiapan yang lebih sulit daripada soal tes uraian, memungkinkan siswa berspekulasi ketika menjawab dan kerja sama antar siswa pada saat tes lebih terbuka. Sedangkan tes subjektif memiliki kelebihan diantaranya: dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks, meningkatkan motivasi peserta tes untuk belajar dibandingkan bentuk tes objektif, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan ide/gagasannya, dan tidak banyak kesempatan untuk berspekulasi dalam menjawab. Sedangkan beberapa kekurangannya adalah : tingkat reliabilitas rendah, membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa jawaban, dan jawaban peserta kadang disertai dengan karangan yang tidak sesuai dengan jawaban dimaksud. Tes Objektif memberi peluang bahwa siapa saja yang memeriksa lembar jawaban tes akan menghasilkan skor yang sama, sedangkan tes subjektif adalah tes yang pada umumnya berbentuk uraian yang penskorannya dipengaruhi oleh pemberi skor disamping jawaban maupun respon yang diberikan peserta tes dengan kata lain jawaban yang sama dapat memiliki skor yang berbeda, butir-butir tes uraian sangat efektif mengukur hasil belajar tingkat yang tinggi seperti analisis, sintesis, dan evaluasi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyusunan bentuk tes uraian/subjektif yaitu : 1. Dari segi isi yang diukur hendaknya ditentukan dengan jelas abilitasnya (pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisis dari suatu permasalahan, dan aspek kognitif lainnya). 2. Dari segi bahasa, gunakan bahasa yang baik dan benar, sederhana, singkat, jelas apa yang hendak ditanyakan. 3. Dari segi teknis penyajian soal, jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi yang sama. Perhatikan waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal tersebut. Bedakan bobot penilaian untuk setiap soal disesuaikan dengan tingkat kesukaran soal. 4. Dari segi jawaban, setiap pertanyaan yang hendak diajukan sebaiknya telah ditentukan jawaban yang diharapkan atau dengan kata lain adanya satu jawaban yang benar. Menurut Sudijono (2011:67) sebagai alat pengukur, tes dapat dibedakan menjadi beberapa jenis atau golongan, tergantung dari segi mana atau dengan alasan apa penggolongan tes itu dilakukan. Jika penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/kemajuan belajar peserta didik, maka tes dapat dibedakan menjadi enam golongan, yaitu : (1) tes seleksi; (2) tes awal; (3) tes akhir; (4) tes diagnostik; (5) tes formatif dan (6) tes sumatif. Jika penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap, maka tes dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu: (1) tes intelegensi (intellegency test); (2) tes kemampuan (aptitude test); (3) tes sikap (attitude test); (4) test kepribadian (personality test) dan (5) tes hasil belajar (achievement test). Adapun penggolongan tes lain yang berdasarkan banyaknya yang mengikuti tes (individual/ grup), waktu yang disediakan (tidak terbatas/cepat), bentuk respon (verbal/non verbal) maupun cara mengajukannya (tertulis/lisan) merupakan penggolongan tes lain-lain. Dalam pengukuran pada umumnya menggunakan teknik tes, tetapi teknik tersebut bukan satu-satunya cara yang dapat ditempuh sebab masih ada cara melakukan pengukuran tanpa harus melakukan pengujian berupa tes, yaitu dengan teknik nontes. Dengan teknik non tes maka penilaian peserta didik dilakukan tanpa “menguji” peserta didik melainkan dalam bentuk pengamatan secara sistematis (observation), wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis). Teknik non tes pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam ranah sikap hidup (affective) dan keterampilan (psychomotoric), sedangkan teknik tes digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dalam ranah proses berpikirnya (cognitive). Berdasarkan uraian mengenai teknik-teknik dalam melakukan evaluasi, pemilihan teknik tes harus mempertimbangkan sistem penskoran yang akan digunakan, fungsi tes sebagai alat ukur, waktu yang tersedia, responden yang akan dihadapi serta bagaimana cara mengajukannya. Dengan demikian evaluasi yang kita lakukan bisa mengungkap informasi yang dibutuhkan dalam rangka ketercapaian tujuan pembelajaran. B. NON TES Tehnik penilaian non tes berarti tehnik penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tehnik penilaian ini umum nya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap, tingkah laku, sifat, sikap sosial, ucapan, riwayat hidup dan lain-lain. Penilaian non tes diantaranya adalah angket (kuisioner), observasi, wawancara, sosiometri, checklist, concept map, portofolio, student jurnal, pertanyaan-pertanyaan, dan sebagainya. 1. Angket Adalah seperangkat pertanyaan tertulis yang dikirimkan ke responden untuk mengungkap pendapat, keadaan, kesan yang ada pada diri responden sendiri maupun diluar dirinya. (Arikunto, 1988:77) Berdasarkan jenis data, angket dibagi menjadi : 1) Angket langsung Yaitu mengungkap diri orang yang menjawab. 2) Angket tidak langsung Yaitu mengungkap orang lain yang menjawabnya diutarakan oleh orang yang mengisi angket, misalnya informasi tentang anak kecil angket diberikan kepada Bapak atau ibunya. Sebelum angket digunakan, angket harus diujicobakan terlebih dahulu kepada subjek yang mempunyai ciri-ciri dan karakteristik yang sama dengan subjek yang akan dijadikan responden penelitian. Kegiatan uji coba menurut Arikunto (1988:79) dimaksudkan untuk : 1) Mengetahui apakah rumusan kalimat yang ada dalam angket sudah cukup dipahami (tidak membingungkan). 2) Mengetahui cara mengadministrasikannya dengan tepat (misal : Bagaimana teknik menyampaikan, berapa lama waktu pengisian, dan sebagaimnya). 3) Mengetahui apakah-apakah pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam angket cukup lengkap atau perlu ditambah sehingga memperjelas data. 4) Mengetahui reaksi responden terhadap pertanyaan angket atau kesediaan untuk mengembalikan, dan sebagainya yang bersifat meningkatkan kualitas perolehan data penelitian. 2. Wawancara (Interview) Diawali dengan menyusun pedoman wawancara atau check-list sesuai dengan data yang akan dikumpulkan. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat harus sesuai dengan permasalahan. Pada saat wawancara sebaiknya menggunakan alat perekam (tape recorder), karena untuk menghindari : 1) Ketidaklengkapan data yang disebabkan oleh faktor lupa. 2) Jika ada jawaban yang terlewat atau belum ditanyakan, segera mengulangi wawancara. Keuntungan wawancara menurut Arikunto (1988:81) dibandingkan angket adalah jawaban yang diberikan oleh responden tidak mungkin berbentuk “tidak tahu” karena pewawancara dapat mengejar atau memaksa (dengan cara halus) responden agar mau menjawab pertanyaan dan memberikan informasi yang diperlukan. 3. Pengamatan (Observasi) Observasi menurut Wardhani adalah teknik penilaian yang dilakukan dengan cara mencatat hasil pengamatan terhadap objek tertentu. Teknik penilaian observasi digunakan biasanya pada saat menggunakan penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian produk, portofolio, dan penilaian afektif. Ditinjau dari cara pencatatannya, pengamatan menurut Arikunto (1988:86) ada empat macam, yaitu : 1) Pencatatan dengan jangka waktu Menggunakan alat pencatat waktu misalnya stop watch. Pengamat harus menunggu sampai selesai tugas yang diberikan dan dihitung reliabilitas pencatatan waktu dari dua pengamat dalam waktu yang berbeda. 2) Pencatatan penghitungan frekuensi Mencatat munculnya kejadian yang diharapkan dalam jangka waktu tertentu. Biasanya pengamat menggunakan tally (jari-jari hitungan). 3) Pencatatan dengan interval Dilakukan oleh pengamat untuk melakukan pengamatan terhadap sejumlah kejadian dalam interval waktu tertentu. Interval pengamatan dilakukan, merentang antara sepuluh detik samapai satu menit. 4) Pengamatan terus-menerus Pada pengamatan ini menuliskan semua kejadian yang muncul pada subjek atau sekelompok subjek dalam satu penggalan waktu tertentu, misalnya satu jam pelajaran disuatu kelas. Pengamat membuat catatan kejadian secara kronologis dan rinci, termasuk narasi yang terjadi. Pada pengamatan proses yang sudah diketahui pemunculannya ini pengamat mengadakan pengecekan dan penilaian dengan maksud antara lain : a) Muncul tidaknya sesuatu peristiwa, kegiatan atau kejadian. b) Berapa kali (frekuensi) munculnya peristiwa, kegiatan atau kejadian tersebut dalam kurun waktu (penggalan waktu) tertentu. c) Berapa lama munculnya peristiwa, kegiatan atau kejadian dimaksud. d) Urutan pemunculan suatu peristiwa, kegiatan atau kejadian dibandingkan atau dihubungkan dengan pemunculan peristiwa, kegiatan atau kejadian lain. e) Kualitas setiap pemunculan peristiwa, kejadian atau kegiatan ditinjau dari ukuran yang seharusnya. 4. Dokumentasi Metode dokumentasi mirip dengan pengamatan dan alat yang digunakan adalah check-list (daftar) atau pedoman pengamatan. Dalam dokumentasi yang diamati adalah dokumen. Data yang terkandung dalam dokumen dapat digali, dicacah, dikumpulkan dengan menggunakan daftar centang ataupun pedoman dokumentasi seperti halnya pengamatan Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi. 1988. Penilaian Program Pendidikan. Jakarta : PT Bina Aksara. Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Jakarta. Depdiknas. Putri, Ratu Ilma Indra. 2010. Assessment Mathematics Education. Palembang. UNSRI Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. Sukardi. 2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip & Operasionalnya.Jakarta. Bumi Aksara. Wardhani, Sri. 2012. Penilaian Hasil Belajar Matematika. Yogyakarta : PPPPTK Matematika Widoyoko, Eko Putro. 2009. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta. Pustaka Pelajar